Lia adalah yang tergolong imut dan manis untuk gadis seusianya. Entah kenapa, aku ingin sekali bersetubuh dengan Lia, aku ingin menikmati rasanya lubang kelamin Lia, yang kubayangkan pastilah masih sangat sempit. Ahhh.. nafsuku kian membara karena memikirkan hal itu. Aku mencoba mencari akal, bagaimana caranya agar keperawanan Lia bisa kudapatkan dan kurasakan. Kutunggu saja waktu tepatnya dengan sabar. Tidak terasa, selesailah film panas yang sedang kami tonton. Suara Lia akhirnya memecahkan keheningan.
“Oom, tuh tititnya berdiri lagi.” kata Lia sambil menunjuk ke arah batang kemaluanku yang memang sedang tegang.“Iya nih Lia, tapi biarin saja deh, gimana dengan filmnya?” jawabku santai.“Bagus kok Oom, persis seperti apa yang papa dan mama lakukan, dan Lia ada beberapa pertanyaan buat Oom nih.” Lia sepertinya ingin menanyakan sesuatu.“Pertanyaannya apa?” tanyaku.“Kenapa sih, kalo olahraga gituan harus masukin titit ke… apa tuh, Lia ngga ngerti?” tanya Lia.“Oh itu.., itu namanya titit dimasukkan ke lubang kencing atau disebut juga lubang memek, pasti papa Lia juga melakukan hal itu ke mama kan?” jawabku menerangkan.“Iya benar Oom, papa pasti masukin tititnya ke lubang yang ada pada memek mama.” Lia membenarkan jawabanku.“Itulah seninya olahraga beginian Lia, bisa dilakukan sendiri, bisa juga dilakukan berdua, olahraga ini khusus untuk dewasa.” kataku memberi penjelasan ke Lia.“Lia sudah boleh ngga Oom.. melakukan olahraga seperti itu?” tanya Lia lagi.
Ouw.. inilah yang aku tunggu.. dasar rejeki.. selalu saja datang sendiri.“Boleh sih, dengan satu syarat jangan bilang sama mama dan papa.” jelasku.Terang saja aku membolehkan, sebab itulah yang kuharapkan.“Lia harus tahu, jika Lia melakukan olahraga beginian akan merasa lelah sekali tetapi juga akan merasakan enak.” tambahku.“Masa sih Oom? Tapi kayaknya ada benarnya juga sih, Lia lihat sendiri mama juga sepertinya merasa lelah tapi juga merasa keenakan, sampai menjerit-jerit lho Oom, malahan kadang seperti mau nangis.” Lia yang polos rupanya sudah mulai tertarik dan sepertinya ingin tahu bagaimana rasanya.“Emang gitu kok. Ee…, mumpung masih siang nich, mama Lia juga masih lama pulangnya, kalo Lia memang ingin olahraga beginian, sekarang saja gimana?” aku sudah tidak sabar ingin melihat pesona kemaluannya Lia, pastilah luar biasa.
“Ayolah!” Lia mengiyakan.Memang rasa ingin tahu anak gadis seusia Lia sangatlah besar. Ini adalah hal baru bagi Lia. Segera saja kusiapkan segala sesuatunya di otakku. Aku ingin Lia merasakan apa yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kaos singlet yang menempel di tubuhku telah kulepas. Aku sudah telanjang bulat dengan batang kejantananku mengacung-ngacung keras dan tegang. Baru pernah seumur hidupku, aku telanjang di hadapan seorang gadis belia berumur 12 tahun. Lia hanya tersenyum-senyum memandangi batang kemaluanku yang berdiri dengan megahnya. Mungkin karena kebiasaan melihat papa dan mamanya telanjang bulat, sehingga melihatku telanjang bulat merupakan hal yang tidak aneh lagi bagi Lia.
Kusuruh Lia untuk membuka seluruh pakaiannya. Awalnya Lia protes, tetapi setelah kuberitahu dan kucontohkan kenapa mama Lia telanjang bulat, dan kenapa ceweknya Tarzan juga telanjang bulat, sebab memang sudah begitu seharusnya. Akhirnya Lia mau melepas pakaiannya satu persatu. Aku melihat Lia melepaskan pakaiannya dengan mata tidak berkedip. Pertama sekali, lepaslah pakaian sekolah yang dikenakannya, lalu rok biru dilepaskan juga. Sekarang Lia tinggal mengenakan kaos dalam dan celana dalam saja.Di balik kaos dalamnya yang cukup tebal itu, aku sudah melihat dua benjolan kecil yang mencuat, pastilah puting susunya Lia yang baru tumbuh. Baru saja aku berpikiran seperti itu, Lia sudah membuka kaos dalamnya itu dan seperti apa yang kubayangkan, puting susu Lia yang masih kuncup, membenjol terlihat dengan jelas di kedua mataku. Puting susu itu begitu indahnya. Lain sekali dengan yang biasa kulihat dan kurasakan dari wanita malam langgananku, rata-rata puting susu mereka sudah merekah dan matang, sedangkan ini, aku hanya bisa menelan ludah.
Payudara Lia memang belum nampak, sebab karena faktor usia. Akan tetapi puting susunya sudah mulai menampakkan hasilnya. Membenjol cukup besar dan mencuat menantang untuk dinikmati. Warna puting susu Lia coklat kemerahan, aku melihat puting susu itu menegang tanpa Lia menyadarinya. Lalu Lia melepaskan juga celana dalamnya. Kembali aku dibuatnya sangat bernafsu, kemaluan Lia masih berupa garis lurus, seperti kebanyakan milik anak-anak gadis yang sering kulihat mandi di sungai. Vagina yang belum ditumbuhi bulu rambut satu pun, masih gundul. Aku sungguh-sungguh melihat pemandangan yang menakjubkan ini. Terbengong-bengong aku dibuatnya.
“Oom, udah semua nih, udah siap nih Oom.”Aku tersentak dari lamunan begitu mendengar Lia berbicara.“Oke, sekarang dimulai yaaa…?”Kuberi tanda ke Lia supaya tiduran di sofa. Pertama sekali aku meminta ijin ke Lia untuk menciuminya, Lia mengijinkan, rupanya karena sangat ingin atau karena Lia memang sudah mulai menuruti nafsunya sendiri, aku kurang tahu. Yang penting bagiku, aku merasakan liang perawannya dan menyetubuhinya siang ini.
Aku ciumi kening, pipi, hidung, bibir dan lehernya. Kupagut dengan mesra sekali. Kubuat seromantis mungkin. Lia hanya diam seribu bahasa, menikmati sekali apa yang kulakukan kepadanya.Setelah puas aku menciuminya, “Lia, boleh ngga Oom netek ke Lia?” tanyaku meminta.“Tapi Oom, tetek Lia kan belon sebesar seperti punya mama.” kata Lia sedikit protes.“Ngga apa-apa kok Lia, tetek segini malahan lebih enak.” kilahku meyakinkan Lia.“Ya deh, terserah Oom saja, asalkan ngga sakit aja.” jawab Lia akhirnya memperbolehkan.“Dijamin deh ngga sakit, malahan Lia akan merasakan enak dan nikmat yang tiada tara.” jawabku lagi.
Segera saja kuciumi puting susu Lia yang kiri, Lia merasa geli dan menggelinjang-gelinjang keenakan, aku merasakan puting susu Lia mulai mengalami penegangan total. Selanjutnya, aku hisap kedua puting susu tersebut bergantian. Lia melenguh menahan geli dan nikmat, aku terus menyusu dengan rakusnya, kusedot sekuat-kuatnya, kutarik-tarik, sedangkan puting susu yang satunya lagi kupelintir-pelintir.“Oom, kok enak banget nihhh… oohhh… enakkk…” desah Lia keenakan.Lia terus merancau keenakan, aku sangat senang sekali. Setelah sekian lama aku menyusu, aku lepaskan puting susu tersebut. Puting susu itu sudah memerah dan sangat tegangnya. Lia sudah merasa mabuk oleh kenikmatan. Aku bimbing tangannya ke batang kemaluanku.
“Lia, kocok dong tititnya Oom Agus.” aku meminta Lia untuk mengocok batang kemaluanku.Lia mematuhi apa yang kuminta, mengocok-ngocok dengan tidak beraturan. Aku memakluminya, karena Lia masih amatir, sampai akhirnya aku justru merasa sakit sendiri dengan kocokan Lia tersebut, maka kuminta Lia untuk menghentikannya. Selanjutnya, kuminta Lia untuk mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, tanpa bertanya Lia langsung saja mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, aku terpana sesaat melihat vagina Lia yang merekah. Tadinya kemaluan itu hanya semacam garis lurus, sekarang di hadapanku terlihat dengan jelas, buah klitoris kecil Lia yang sebesar kacang kedelai, vaginanya merah tanpa ditumbuhi rambut sedikit pun, dan yang terutama, lubang kemaluan Lia yang masih sangat sempitnya. Jika kuukur, hanya seukuran jari kelingking lubangnya.
Aku lakukan sex dengan mulut, kuciumi dan hisap kemaluan Lia dengan lembut, Lia kembali melenguh. Lenguhan yang sangat erotis. Meram melek kulihat mata Lia menahan enaknya hisapanku di kemaluannya. Kusedot klitorisnya. Lia menjerit kecil keenakan, sampai tidak berapa lama.“Oom, enak banget sih, Lia senang sekali, terussinnn…” pinta Lia.Aku meneruskan menghisap-hisap vagina Lia, dan Lia semakin mendesah tidak karuan. Aku yakin Lia hampir mencapai puncak orgasme pertamanya selama hidup.“Oommm… ssshhh… Lia mau pipis nich..”Lia merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, seperti ingin kencing.“Tahan dikit Lia… tahan yaaa…” sambil aku terus menjilati, dan menghisap-hisap kemaluannya.“Udah ngga tahan nich Oommm… aahhh…”Tubuh Lia mengejang, tangan Lia berpegangan ke sofa dengan erat sekali, kakinya menjepit kepalaku yang masih berada di antara selangkangannya.
Lia ternyata sudah sampai pada klimaks orgasme pertamanya. Aku senang sekali, kulihat dari bibir lubang perawannya merembes keluar cairan cukup banyak. Itulah cairan mani nikmatnya Lia.“Oohhh… Oom Agus… Lia merasa lemes dan enak sekali… apa sih yang barusan Lia alami, Oom…?” tanya Lia antara sadar dan tidak.“Itulah puncaknya Lia.., Lia telah mencapainya, pingin lagi ngga?” tanyaku.“Iya.. iya.. pingin Oom…” jawabnya langsung.Aku merasakan kalau Lia ingin merasakannya lagi. Aku tidak langsung mengiyakan, kusuruh Lia istirahat sebentar, kuambilkan semacam obat dari dompetku, obat dopping dan kusuruh Lia untuk meminumnya. Karena sebentar lagi, aku akan menembus lubang perwannya yang sempit itu, jadi aku ingin Lia dalam keadaan segar bugar.
Tidak berapa lama, Lia kulihat telah kembali fit.“Lia… tadi Lia sudah mencapai puncak pertama, dan masih ada satu puncak lagi, Lia ingin mencapainya lagi kan..?” bujukku.“Iya Oom, mau dong…” Lia mengiyakan sambil manggut-manggut.“Ini nanti bukan puncak Lia saja, tetapi juga puncak Oom Agus, ini finalnya Lia” kataku lagi menjelaskan.“Final?” Lia mengernyitkan dahinya karena tidak paham maksudku.“Iya, final.., Oom ingin memasukan titit Oom ke lubang memek Lia, Oom jamin Lia akan merasakan sesuatu yang lebih enak lagi dibandingkan yang tadi.” akhirnya aku katakan final yang aku maksudkan.“Ooh ya, tapi.. Oom.. apa titit Oom bisa masuk tuh? Lubang memek Lia kan sempit begini sedangkan tititnya Oom.. gede banget gitu…” Lia sambil menunjuk lubang nikmatnya.“Pelan-pelan dong, ntar pasti bisa masuk kok.. cobain ya..?” pintaku lagi.“Iya deh Oom…” Lia secara otomatis telah mengangkangkan kakinya selebar-lebarnya.
Kuarahkan kepala kemaluanku ke lubang vagina Lia yang masih super sempit tersebut. Begitu menyentuh lubang nikmatnya, aku merasa seperti ada yang menggigit dan menyedot kepala kemaluanku, memang sangat sulit untuk memasukkannya. Sebenarnya bisa saja kupaksakan, tetapi aku tidak ingin Lia merasakan kesakitan. Kutekan sedikit demi sedikit, kepala kemaluanku bisa masuk, Lia mengaduh dan menjerit karena merasa perih. Aku menyuruhnya menahan. Efek dari obat dopping itu tadi adalah untuk sedikit meredam rasa perih, selanjutnya kutekan kuat-kuat.“Blusss…”Lia menjerit cukup keras, “Ooommm… tititnya sudaaahhh masuk… kkaahhh?”“Udah sayang… tahan ya…” kataku sambil mengelus-ngelus rambut Lia.
Aku mundurkan batang kemaluanku. Karena sangat sempitnya, ternyata bibir kemaluan Lia ikut menggembung karena tertarik. Kumajukan lagi, kemudian mundur lagi perlahan tetapi pasti. Beberapa waktu, Lia pun sepertinya sudah merasakan enak. Setelah cairan mani Lia yang ada di lubang perawannya semakin membanjir, maka lubang kenikmatan itu sudah sedikit merekah. Aku menggenjot maju mundur dengan cepat. Ahhh.. inikah kemaluan perawan gadis imut. Enak sekali ternyata. Hisapannya memang tiada duanya. Aku merasa keringat telah membasahi tubuhku, kulihat juga keringat Lia pun sudah sedemikian banyaknya.
Sambil kuterus berpacu, puting susu Lia kumainkan, kupelintir-pelintir dengan gemas, bibir Lia aku pagut, kumainkan lidahku dengan lidahnya. Aku merasakan Lia sudah keluar beberapa kali, sebab aku merasa kepala batang kemaluanku seperti tersiram oleh cairan hangat beberapa kali dari dalam lubang surga Lia. Aku ganti posisi. Jika tadi aku yang di atas dan Lia yang di bawah, sekarang berbalik, aku yang di bawah dan Lia yang di atas. Lia seperti kesetanan, bagaikan cowboy menunggang kuda, oh enak sekali rasanya di batang kemaluanku. Naik turun di dalam lubang surga Lia.
Sekian lama waktu berlalu, aku merasa puncak orgasmeku sudah dekat. Kubalik lagi posisinya, aku di atas dan Lia di bawah, kupercepat gerakan maju mundurku. Lalu aku peluk erat sekali tubuh kecil dalam dekapanku, kubenamkan seluruh batang kemaluanku. Aku menegang hebat.“Crruttt… crruttt…”Cairan maniku keluar banyak sekali di dalam lubang kemaluan Lia, sedangkan Lia sudah merasakan kelelahan yang amat sangat. Aku cabut batang kemaluanku yang masih tegang dari lubang kemaluan Lia. Lia kubiarkan terbaring di sofa. Tanpa terasa, Lia langsung tertidur, aku bersihkan lubang kelaminnya dari cairan mani yang perlahan merembes keluar, kukenakan kembali semua pakaiannya, lalu kubopong gadis kecilku itu ke kamarnya. Aku rebahkan tubuh mungil yang terkulai lelah dan sedang tertidur di tempat tidurnya sendiri, kemudian kucium keningnya. Terima kasih Lia atas kenikmatannya tadi. Malam pun tiba.
Keesokan harinya, Lia mengeluh karena masih merasa perih di vaginanya, untungnya Tante Linda tidak tahu. Hari berlalu terus. Sering kali aku melakukan olahraga senggama dengan Lia, tentunya tanpa sepengetahuan Oom Joko dan Tante Linda.
Rabu, 14 Oktober 2009
Rima Gadis SMP
Rima siswi SMP akhirnya merasakan betapa nikmatnya sex itu. Ia juga terlena akan betapa mantapnya di entot dari belakang -- disodomi---. Bahkan pada pengalaman pertamanya, saat ia harus kehilangan keperawanan, ia tak hanya mendapat jackpot ngentot di semua lobang yang dimiliki, tapi juga sekaligus 2 lobangnya dimasuki kontol pacar Rima dan kawannya.
"Terima kasih sayang aku puas dan sayang sama kamu "katanya lembut. Aku diam saja sambil merasakan kenikmatan yang baru pertama kali aku rasakan. Badanku lemes sekali Kulihat di seprai ada bercak merah..darah keperawananku dan mungkin bercampur dengan sedikit darah dari pantatku yang mungkin juga sobek karena dirasuki kontol Dino.
Aku seorang pelajar SMP kelas II, namaku Rima. Kata orang aku cantik, kulitku kuning, hidungku bangir, sepintas aku mirip Indo. Tinggiku 160cm, ukuran Bhku 34, cukup besar untuk seorang gadis seusiaku. Aku punya pacar, Dino namanya. Dia kakak kelasku, kami sering ketemu di sekolah. Dino seorang siswa yang biasa-biasa saja, dia tidak menonjol di sekolahku. Prestasibelajarnyapun biasa saja. Aku tertarik karena dia baik padaku. Entah kebaikan yang tulus atau memang ada maunya. Dia juga mencoba mendekatiku. Di sekolah, aku tergolong populer. Banyak siswa cowok mencari perhatian padaku. Tapi entah mengapa aku memilih Dino. Singkatnya, aku pacaran dengan Dino. Banyak teman-teman cewekku menyayangkannya, padahal masih ada si Anto yang bapaknya pejabat, Si Danu yang juara kelas, Si Andi yang jago basket, dan lainnya. Entah mengapa aku tidak menaruh perhatian pada mereka-mereka itu.Aku dan Dino telah berjalan kurang lebih 6 bulan. Pacaran kami sembunyi-sembunyi, ya karena kami masih SMP jadi kami masih takut untuk pacaran secara terang-terangan. Orang tuaku sebenarnya melarangku untuk berpacaran, masih kecil katanya. Tetapi apabila cinta telah melekat, apapun jadi nikmat.
Hari Sabtu sepulang sekolah aku janjian sama Dino. Aku mau nemanin dia ke rumah temannya. Aku bilang ke orang tua bahwa hari Sabtu aku pulang telat karena ada les tambahan. Aku berbohong. Di tasku. telah kusiapkan kaos dan celana panjang dari rumah. Sepulang sekolah, aku ke wc dan mengganti seragamku dengan baju yang kubawa dari rumah. Dinopun begitu. Dari sekolah kami yang berada di perbatasan Jakarta Timur dan Selatan, kami naik bis kearah Cipinang, Jakarta Timur, rumah teman Dino. Sesampai disana, aku diperkenalkan dengan teman Dino, Agus namanya. Rumahnya sepi, karena orang tua Agus sedang ke luar kota. Agus juga bersama pacarnya, Anggi. Pembantunyapun pulang kampung, sesekali kakak Agus yang telah menikah, datang ke rumah sekalian menengok Agus dan membawakannya makanan. Kakaknya hari ini sudah datang tadi pagi dan akan datang lagi besok, demikian kataAgus. Jadi hanya kami berempat di rumah itu. Kami ngobrol bersama ngalor ngidul.
Tak lama kemudian, Agus dan Dino pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk kami. Aku ngobrol dengan Anggi. Dari Anggi, aku tahu bahwa Agus telah berhubungan selama kurang lebih 1 tahun. Keduanya satu sekolah, juga di SMP hanya berlainan dengan sekolahku. 10 menit kemudian, Agus dan Dino kembali dengan membawa 4 gelas sirup dan dua toples makanan kecil. Setelah memberikan minuman dan makanan itu, Agus berdiri dan memutar VCD.Film baru katanya. Aku enggak ngerti, aku pikir film bioskop biasa. Agus menyilakan kami minum. Aku minum sirup yang diberikannya. 10 menit berlalu, kepalaku pusing sekali, bersamaan dengan itu ada rasa aneh menyelimuti tubuhku. Rasa..hangat merinding di tv tampak adegan seorang wanita bule yang sedang dientot oleh 2 laki-laki, satu negro dan satu lagi bule juga. Aku berniat untuk pulang, tetapi entah mengapa dorongan hatiku untuk tetap menyaksikan film itu. Mungkin karena aku baru pertama kali ini nonton blue film. Badanku makin enggak karuan rasanya kepalaku serasa berat dan ah rangsangan di badanku semakin menggila .Aku lihat Agus dan Anggi sudah saling melepaskan baju mereka telanjang bulat di hadapan aku dan Dino.Mereka saling berpelukan, berpagutan tampak Agus menciumi tetek Anggi yang mungil Agus lalu mengisep-isep pentilnya tampaknya keduanya sudah sering melakukannya . Mereka tampak tidak canggung lagi Anggi mengisep-isep peler Agus persis seperti kejadian di film blue itu . Anggi juga sepertinya telah terbiasa Kontol Agus bak permen, diisep, dikulum oleh Anggi Dino merapatkan tubuhnya kepadaku.
"Rim .kamu sayang aku enggak?"tanyanya padaku. "Eh..emang kenapa, Din ?"kataku kaget karena aku masih asyik menyaksikan Agus dan Anggi "Aku pengen kayak gitu ."kata Agus sambil menunjuk pada Agus dan Anggi yang semakin hot. Tampak Agus mulai menindih Anggi, dan memasukkan batang kontolnya ke nonok Anggi. Dengan diikuti teriakan kecil Anggi, batang kontol itu masuk seluruhnya ke nonok Anggi. Gairahku melonjak-lonjak entah kenapa?Seluruh badanku merinding ."Rima?"kata Dino lagi. "Eh enggak ah enggak mau malu ."kataku. "Malu sama siapa?"kata Dino. Tangannya mulai merayapi dadaku. Kutepis pelan tangannya. "Malu sama Agus dan Anggi tuh "kataku. "Ah mereka aja cuek ayo dong Rima aku sudah enggak tahan nih "kata Dino. "Ah..jangan ah "kataku. Gairahku makin tidak keruan mendengar erangan dan rintihan Agus dan Anggi. Tak terasa tangan Dino mulai membuka kancing bajuku. Entah kenapa aku membiarkannya sehingga bajuku terbuka. Aku hanya mengenakan BH dan celanapanjang jeans. Adegan di TV makin hot tampak sekarang seorang wanita asia di entot tiga orang bule dua orang memasukkan kontolnya ke memek dan pantatnya sedangkan yang satunya kontolnya lagi diisep oleh si wanita. Keempatnya terlihat sedang merasakan kenikmatan Tangan Dino mulai merayapi dan meremas-remas buah dadaku yang masih kencang dan belum pernah disentuh oleh siapapun. Aku menggelinjang, geli nikmat ah..baru pertama kali aku merasakan ini ."Buka Bhnya, ya sayang "pinta Dino. Aku mengangguk, aku jadi inginmerasakan lebih nikmat lagi Dengan cekatan Dino membuka Bhku.. aku sekarang benar-benar telanjang dada. Dino mengisepi pentilku memencet-memencet buah dadaku yang masih kenyal dan bagus "Tetekmu enak bener, sayang belum pernah ada yang pegang yaa"kata Dino sambil terus meremas tetekku dan mengisepi pentilku "Belum Din ahhh enak Din terus terus..jangan berhenti ."kataku. Kenikmatan itu baru kali ini aku rasakan. Kulirik Agus dan Anggi, mereka sekarang bermain doggy style. Anggi berposisi nungging dan Agus menusuknya dari belakang terdengar erangan dan eluhan mereka Gairahku makin menggila "Buka celanamu ya sayang aku udah pengen nih "pinta Dino. "Jangan Din takut ."kataku. "Takut apa sayang?"kata Dino. "Takut hamil "kataku. "Enggak Din, aku nanti keluarnya di luar memekmu sayang kalo hamilpun aku akan tanggung jawab, percayalah "katanya.
Aku diam saja Dino mulai membuka ristleting celanaku, aku diamkan saja .tak lama kemudian, dia memerosotkan celanaku tampak memekku yang menggumpal dengan jembut yang lumayan tebal. Dino pun memerosotkan celana dalamku Aku benar-benar polos bugil. Dinopun membukaseluruh bajunya, kami berdua telanjang bulat .Tangan Dino tetap meremas-remas tetekku Kulirik Agus dan Anggi, eh mereka bersodomi Anggi sudah biasa bersodomi rupanya kulihat kontol Agus maju mundur di pantat Anggi sedangkan tangan kiri Anggi mengucek-ucek memeknya sendiri yang sudah basah Erangan mereka terdengar makin sering .Dino terus mengerjaiku, tangannya mulai merayapi jembutku. Salah satu jarinya dimasukkan ke nonokku"Ah..sakit, pelan-pelan, Din.."teriakku ketika jari itu memasuki nonokku. Dino agak sedikit mengeluarkan jari itu dan bermain di bibir kemaluanku tak lama kemudian nonokku basah . "Din, isep dong punyaku "pinta Dino sambil menyodorkan kontolnya ke mukaku. "Ah..enggak ah "kataku menolak. "Jijik ya? Punyaku bersih kok ayo dong Anggi saja berani tuh "pinta Dino memelas.
Dengan ragu aku pegang kontol Dino. Baru sekali ini aku memegang punya laki-laki. Ternyata liat dan keras. Kontol Dino sudah berdiri tegang rupanya. "Ayo dong Rima sayang "pinta Dino lagi. Dengan ragu kumasukkan kontol itu ke mulutku, aku diamkan kontol itu sambil kurasa-rasa. Ih, kenyal "Hisap dong sayang seperti kamu makan permen "Dino mengajariku. Pelan-pelankuisap-isap, kujilati bolong kontol itu dengan lidahku lama kelamaan aku merasa senang mengisapnya kuisep keras-keras..kusedot-sedot, kujilati .kumaju mundurkan kontol itu di dalam mulutku terdengar berulang kali erangan Dino. "Ah ah .uuuhhh enak sayang teruskan .." erang Dino. Tangan Dino terus mengucek-ucek nonokku. Sudah tidak sakit lagi sekarang, mungkinsudah basah Aku jadi senang mengisap kontol Dino terus kulomoh kuisap..kujilati kusedot-sedot ih..enak juga, pikirku Tiba-tiba Dino menarik kontolnya dan mengarahkannya ke nonokku Aku pasrah, dimasukkannya kontolnya ternyata meleset, Dino melumuri tangannya dengan ludahnya kemudian tangannya itu diusapkan ke kontolnya dan mencoba lagi memasukkan kontolnya ke liang nonokku, ketika kepalanya masuk ke nonokku, aku berteriak"Aduuh sakit Din pelan-pelan dong " Gairah semakin meninggi .aku ingin merasakan kenikmatan lebih .Dino melesakkan kontolnya ke nonokku pelan kurasakan sesak nonokku ketika kepala kontol itu masuk ke dalamnya Dino lagi menghentakkan kontolnya sehingga amblas semuanya ke dalam nonokku ."Ahhh perih Din "kataku. Dino diam sebentar memberikan waktu kepadaku untuk menenangkan diri. "Tenang Din, sebentar lagi kamu akan terbiasa kok "katanya. Pelan-pelan Dino mengocokkontolnya di nonokku. Masih terasa perih sedikit kocokkan Dino semakin kencang Aneh, perih itu sudah tidak terasa lagi, yang ada hanya rasa nikmat nikmat sekali "Terus Din Terus ahhhh ah .enak ."kataku. Sempat kulirik Agus dan Anggi masih terus bersodomi. Gimana rasanya disodomi ya, pikirku Agus semakin menggencarkan kocokkanyya Aku semakin menggelinjang .ah ternyata ngentot itu nikmat .surga dunia coba dari dulu.. kataku dalam hati ."Din ah.ah .aku aku ."entah apa yang aku ingin ucapkan. Ada sesuatu yang ingin kukeluarkan dari nonokku entah apa "Keluarkan saja sayang kamu mau keluar ."kata Dino. "Ahh iya Din aku mau keluar .."tak lama kemudian terasa cairan hangat dari nonokku .
Dino terus mengocok kontolnya kuat juga pacarku ini, pikirku. "Satu nol, sayang"kata Dino tersenyum. Dino mencopot kontolnya, aku sedikit kecewa "Kenapa dicopot Din.."tanyaku. "Kita coba doggy style, sayang "jawabnya sambil membimbingku berposisi seperti anjing. Dino menusukan kontolnya lagi sekarang badanku terguncang-guncang keras terdengar erangankeras dari Anggi dan Agus, mereka ternyata telah mencapai puncaknya kulihat peluh bercucuran dari kedua tubuh mereka, dan akhirnya mereka terkapar kenikmatan tampak wajah puas dari mereka berdua Aku sudah hampir tiga kali keluar Dino tampak belum apa-apa dia terus mengocok kontolnya di memekku. Sudah hampir ¾ jam aku dientot Dino, tapi tampaknya Dino belum menunjukkan akan selesai. Kuat juga aku lemes sekali lalu Dino mencopot lagi kontolnya dan mengambil baby oil yang tersedia dekat kakinya. Aku ingat baby oil itudipakai untuk melumuri pantat Anggi ketika mau disodomi .eh apakah aku mau disodomi Dino? "Mau ngapain Din "tanyaku penasaran ."Seperti Anggi dan Agus lakukan, Rima aku ingin menyodomimu sayang "jawabnya. Sebenarnya aku takut, tapi terdorong rasa gairahku yang melonjak-lonjak dan keingin tahuanku rasanya disodomi, maka aku mendiamkannya ketika Dino mulai mengolesi lubang pantatku dengan baby oil. Tak lama kemudian, kontol Dino yang masih keras itu diarahkan ke pantatku meleset dicoba lagi kepala kontol Dino tampak mulai merayapi lubang pantatku "Aduuuh sakit Din "kataku ketika kontol itu mulai masuk pantatku. "Tenang sayang nanti juga enggak sakit "jawab Dino sambil melesakkan bagian kontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantatku "Aduuuhh sakiiiitt "kataku lagi. "Tenang Rim, nanti enak deh..aku jadi ketagihan sekarang "kata Anggi sambil mengelus rambutku dan menenangkanku. "Kamu sudah sering disodomi, Nggi?"tanyaku. "Wah bukan sering lagi hampir tiap hari kadang aku yang minta abis enak sih udah tenang saja ayo Dino coba lagi nanti pacarmu pasti ketagihan ayo.."kata Anggi sambil menyuruh Dino mencoba lagi.
Dino mendesakkan lagi kontolnya sehingga seluruhnya amblas ke pantatku. Terasa perih di pantatku ."Tuuh kan sudah masuk tuh enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayak pantatku ini enak kan jadi enggak ada hari libur, kalo lagi mens-pun tetap bisa dientot hi hihi "kata Anggi. Aku diam saja. Ternyata sakit kalo disodomi .Dino mulai mengocok kontolnya di pantatku. "Pelan-pelan, Din masih sakit "pintaku pada Dino. "Iya sayang enak nih sempit"katanya. Anggi ke belakang pantatku dan mengucek-ucek nonokku dengan tangannya aku semakin menggelinjang nikmat "Anggi ah .enak "kataku. "Ayo Din, kocok terus, biar aku mengucek nonoknya, biar rasa sakit itu bercampur rasa nikmat"kata Anggi pada Dino. Benarsekarang rasa sakit itu tidak muncul lagi hanya nikmat ."Hai sayang ini ada lobang nganggur mau pake? Boleh kan Dino? Lubang yang satu ini dipake pacarku Agus "kata Anggi. "Tanya Rima saja deh, aku lagi asyik nih"jawab Agus sambil terus mengocok kontolnya di pantatku. "Gimana Rima? Bolehkan? Enak lo di dobelin aku sering kok "pinta Anggi. "Ah..jangan deh "kataku."Sudahlah Rima, kasih saja aku rela kok"kata Dino. Tiba-tiba Agus merayap di bawahku dan menciumi tetekku. Kontolnya dipegang oleh Anggi dan diarahkan ke nonokku. Dengan sekali hentakan, kontol itu masuk ke nonokku. "Jaang "kataku hendak berteriak jangan tetapi terlambat, kontol itu sudah masuk ke nonokku. Jadilah aku dientot dan disodomi . ½ jam Agus dan Dino mengocok kontolku. Aku lemes sekali baru sekali dientot sudah diduain tanganku sudah tidak kuat menopang badanku. Kakiku lemes sekali. Kenikmatan itu sendiri tidak adaduanya .aku sebenarnya jadi senang dientot berdua begini tapi mungkin kali ini kurang siap.
Aku keluar 2 kali sebelum Agus mencopot kontolnya dan memasukkan kontolnya ke mulut Anggi. Anggi menghirup peju yang keluar dari kontol Agus dengan nikmat. Kemudian Dino melakukan hal yang sama, tadinya aku ragu untuk menghirupnya, tapi lagi-lagi rasa penarasan pada diriku membuatku ingin rasanya menikmati pejunya Dino. Dino memuntahkan pejunya dimulutku akupun menelannya. Ah..rasanya asin dan agak amis setelah kontolnya bersih, Dino mencopot kontolnya dan menciumku yang sudah KO di kasur. "Terima kasih sayang aku puas dan sayang sama kamu "katanya lembut. Aku diam saja sambil merasakan kenikmatan yang baru pertama kali aku rasakan. Badanku lemes sekali Kulihat di seprai ada bercak merah..darah keperawananku dan mungkin bercampur dengan sedikit darah dari pantatku yang mungkin juga sobek karena dirasuki kontol Dino. Aku mencoba duduk, ah masih terasa sakit di kedua lubangku itu, lalu aku menangis di pelukan Dino ."Din, aku sudah enggak perawan lagi sekarang jangan tinggalkan aku yaa ."kataku pada Dino. Kulihat Anggi dan Agus sudah tidur berpelukan dalam keadaan telanjang bulat.
"Iya sayang aku makin cinta sama kamu aku janji enggak akan meninggalkanmu tapi kamu harus janji yaa "katanya. "Bener Din? Kamu enggak ninggalin aku? Tapi janji apa ?"kataku balik bertanya. "Janji, kita akan mengulangi ini lagi aku bener-bener ketagihan sekarang sama nonokmu dan juga pantatmu, sayang "kata Dino sambil mengelus rambutku. Aku diam saja, aku juga ingin lagi..aku juga ketagihan kataku dalam hati. "Janji ya sayang "katanya lagi mendesakku. Aku hanya mengangguk. "Sudah jangan nangis sekarang kamu mau langsung pulang atau mau istirahat dulu?"tawar Dino. Aku pilih istirahat dulu lalu akupun tertidur berpelukan dengan Dino. Hari ini baru pertama kali aku berkenalan dengan sex. Ternyata enak dan nikmat.
"Terima kasih sayang aku puas dan sayang sama kamu "katanya lembut. Aku diam saja sambil merasakan kenikmatan yang baru pertama kali aku rasakan. Badanku lemes sekali Kulihat di seprai ada bercak merah..darah keperawananku dan mungkin bercampur dengan sedikit darah dari pantatku yang mungkin juga sobek karena dirasuki kontol Dino.
Aku seorang pelajar SMP kelas II, namaku Rima. Kata orang aku cantik, kulitku kuning, hidungku bangir, sepintas aku mirip Indo. Tinggiku 160cm, ukuran Bhku 34, cukup besar untuk seorang gadis seusiaku. Aku punya pacar, Dino namanya. Dia kakak kelasku, kami sering ketemu di sekolah. Dino seorang siswa yang biasa-biasa saja, dia tidak menonjol di sekolahku. Prestasibelajarnyapun biasa saja. Aku tertarik karena dia baik padaku. Entah kebaikan yang tulus atau memang ada maunya. Dia juga mencoba mendekatiku. Di sekolah, aku tergolong populer. Banyak siswa cowok mencari perhatian padaku. Tapi entah mengapa aku memilih Dino. Singkatnya, aku pacaran dengan Dino. Banyak teman-teman cewekku menyayangkannya, padahal masih ada si Anto yang bapaknya pejabat, Si Danu yang juara kelas, Si Andi yang jago basket, dan lainnya. Entah mengapa aku tidak menaruh perhatian pada mereka-mereka itu.Aku dan Dino telah berjalan kurang lebih 6 bulan. Pacaran kami sembunyi-sembunyi, ya karena kami masih SMP jadi kami masih takut untuk pacaran secara terang-terangan. Orang tuaku sebenarnya melarangku untuk berpacaran, masih kecil katanya. Tetapi apabila cinta telah melekat, apapun jadi nikmat.
Hari Sabtu sepulang sekolah aku janjian sama Dino. Aku mau nemanin dia ke rumah temannya. Aku bilang ke orang tua bahwa hari Sabtu aku pulang telat karena ada les tambahan. Aku berbohong. Di tasku. telah kusiapkan kaos dan celana panjang dari rumah. Sepulang sekolah, aku ke wc dan mengganti seragamku dengan baju yang kubawa dari rumah. Dinopun begitu. Dari sekolah kami yang berada di perbatasan Jakarta Timur dan Selatan, kami naik bis kearah Cipinang, Jakarta Timur, rumah teman Dino. Sesampai disana, aku diperkenalkan dengan teman Dino, Agus namanya. Rumahnya sepi, karena orang tua Agus sedang ke luar kota. Agus juga bersama pacarnya, Anggi. Pembantunyapun pulang kampung, sesekali kakak Agus yang telah menikah, datang ke rumah sekalian menengok Agus dan membawakannya makanan. Kakaknya hari ini sudah datang tadi pagi dan akan datang lagi besok, demikian kataAgus. Jadi hanya kami berempat di rumah itu. Kami ngobrol bersama ngalor ngidul.
Tak lama kemudian, Agus dan Dino pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk kami. Aku ngobrol dengan Anggi. Dari Anggi, aku tahu bahwa Agus telah berhubungan selama kurang lebih 1 tahun. Keduanya satu sekolah, juga di SMP hanya berlainan dengan sekolahku. 10 menit kemudian, Agus dan Dino kembali dengan membawa 4 gelas sirup dan dua toples makanan kecil. Setelah memberikan minuman dan makanan itu, Agus berdiri dan memutar VCD.Film baru katanya. Aku enggak ngerti, aku pikir film bioskop biasa. Agus menyilakan kami minum. Aku minum sirup yang diberikannya. 10 menit berlalu, kepalaku pusing sekali, bersamaan dengan itu ada rasa aneh menyelimuti tubuhku. Rasa..hangat merinding di tv tampak adegan seorang wanita bule yang sedang dientot oleh 2 laki-laki, satu negro dan satu lagi bule juga. Aku berniat untuk pulang, tetapi entah mengapa dorongan hatiku untuk tetap menyaksikan film itu. Mungkin karena aku baru pertama kali ini nonton blue film. Badanku makin enggak karuan rasanya kepalaku serasa berat dan ah rangsangan di badanku semakin menggila .Aku lihat Agus dan Anggi sudah saling melepaskan baju mereka telanjang bulat di hadapan aku dan Dino.Mereka saling berpelukan, berpagutan tampak Agus menciumi tetek Anggi yang mungil Agus lalu mengisep-isep pentilnya tampaknya keduanya sudah sering melakukannya . Mereka tampak tidak canggung lagi Anggi mengisep-isep peler Agus persis seperti kejadian di film blue itu . Anggi juga sepertinya telah terbiasa Kontol Agus bak permen, diisep, dikulum oleh Anggi Dino merapatkan tubuhnya kepadaku.
"Rim .kamu sayang aku enggak?"tanyanya padaku. "Eh..emang kenapa, Din ?"kataku kaget karena aku masih asyik menyaksikan Agus dan Anggi "Aku pengen kayak gitu ."kata Agus sambil menunjuk pada Agus dan Anggi yang semakin hot. Tampak Agus mulai menindih Anggi, dan memasukkan batang kontolnya ke nonok Anggi. Dengan diikuti teriakan kecil Anggi, batang kontol itu masuk seluruhnya ke nonok Anggi. Gairahku melonjak-lonjak entah kenapa?Seluruh badanku merinding ."Rima?"kata Dino lagi. "Eh enggak ah enggak mau malu ."kataku. "Malu sama siapa?"kata Dino. Tangannya mulai merayapi dadaku. Kutepis pelan tangannya. "Malu sama Agus dan Anggi tuh "kataku. "Ah mereka aja cuek ayo dong Rima aku sudah enggak tahan nih "kata Dino. "Ah..jangan ah "kataku. Gairahku makin tidak keruan mendengar erangan dan rintihan Agus dan Anggi. Tak terasa tangan Dino mulai membuka kancing bajuku. Entah kenapa aku membiarkannya sehingga bajuku terbuka. Aku hanya mengenakan BH dan celanapanjang jeans. Adegan di TV makin hot tampak sekarang seorang wanita asia di entot tiga orang bule dua orang memasukkan kontolnya ke memek dan pantatnya sedangkan yang satunya kontolnya lagi diisep oleh si wanita. Keempatnya terlihat sedang merasakan kenikmatan Tangan Dino mulai merayapi dan meremas-remas buah dadaku yang masih kencang dan belum pernah disentuh oleh siapapun. Aku menggelinjang, geli nikmat ah..baru pertama kali aku merasakan ini ."Buka Bhnya, ya sayang "pinta Dino. Aku mengangguk, aku jadi inginmerasakan lebih nikmat lagi Dengan cekatan Dino membuka Bhku.. aku sekarang benar-benar telanjang dada. Dino mengisepi pentilku memencet-memencet buah dadaku yang masih kenyal dan bagus "Tetekmu enak bener, sayang belum pernah ada yang pegang yaa"kata Dino sambil terus meremas tetekku dan mengisepi pentilku "Belum Din ahhh enak Din terus terus..jangan berhenti ."kataku. Kenikmatan itu baru kali ini aku rasakan. Kulirik Agus dan Anggi, mereka sekarang bermain doggy style. Anggi berposisi nungging dan Agus menusuknya dari belakang terdengar erangan dan eluhan mereka Gairahku makin menggila "Buka celanamu ya sayang aku udah pengen nih "pinta Dino. "Jangan Din takut ."kataku. "Takut apa sayang?"kata Dino. "Takut hamil "kataku. "Enggak Din, aku nanti keluarnya di luar memekmu sayang kalo hamilpun aku akan tanggung jawab, percayalah "katanya.
Aku diam saja Dino mulai membuka ristleting celanaku, aku diamkan saja .tak lama kemudian, dia memerosotkan celanaku tampak memekku yang menggumpal dengan jembut yang lumayan tebal. Dino pun memerosotkan celana dalamku Aku benar-benar polos bugil. Dinopun membukaseluruh bajunya, kami berdua telanjang bulat .Tangan Dino tetap meremas-remas tetekku Kulirik Agus dan Anggi, eh mereka bersodomi Anggi sudah biasa bersodomi rupanya kulihat kontol Agus maju mundur di pantat Anggi sedangkan tangan kiri Anggi mengucek-ucek memeknya sendiri yang sudah basah Erangan mereka terdengar makin sering .Dino terus mengerjaiku, tangannya mulai merayapi jembutku. Salah satu jarinya dimasukkan ke nonokku"Ah..sakit, pelan-pelan, Din.."teriakku ketika jari itu memasuki nonokku. Dino agak sedikit mengeluarkan jari itu dan bermain di bibir kemaluanku tak lama kemudian nonokku basah . "Din, isep dong punyaku "pinta Dino sambil menyodorkan kontolnya ke mukaku. "Ah..enggak ah "kataku menolak. "Jijik ya? Punyaku bersih kok ayo dong Anggi saja berani tuh "pinta Dino memelas.
Dengan ragu aku pegang kontol Dino. Baru sekali ini aku memegang punya laki-laki. Ternyata liat dan keras. Kontol Dino sudah berdiri tegang rupanya. "Ayo dong Rima sayang "pinta Dino lagi. Dengan ragu kumasukkan kontol itu ke mulutku, aku diamkan kontol itu sambil kurasa-rasa. Ih, kenyal "Hisap dong sayang seperti kamu makan permen "Dino mengajariku. Pelan-pelankuisap-isap, kujilati bolong kontol itu dengan lidahku lama kelamaan aku merasa senang mengisapnya kuisep keras-keras..kusedot-sedot, kujilati .kumaju mundurkan kontol itu di dalam mulutku terdengar berulang kali erangan Dino. "Ah ah .uuuhhh enak sayang teruskan .." erang Dino. Tangan Dino terus mengucek-ucek nonokku. Sudah tidak sakit lagi sekarang, mungkinsudah basah Aku jadi senang mengisap kontol Dino terus kulomoh kuisap..kujilati kusedot-sedot ih..enak juga, pikirku Tiba-tiba Dino menarik kontolnya dan mengarahkannya ke nonokku Aku pasrah, dimasukkannya kontolnya ternyata meleset, Dino melumuri tangannya dengan ludahnya kemudian tangannya itu diusapkan ke kontolnya dan mencoba lagi memasukkan kontolnya ke liang nonokku, ketika kepalanya masuk ke nonokku, aku berteriak"Aduuh sakit Din pelan-pelan dong " Gairah semakin meninggi .aku ingin merasakan kenikmatan lebih .Dino melesakkan kontolnya ke nonokku pelan kurasakan sesak nonokku ketika kepala kontol itu masuk ke dalamnya Dino lagi menghentakkan kontolnya sehingga amblas semuanya ke dalam nonokku ."Ahhh perih Din "kataku. Dino diam sebentar memberikan waktu kepadaku untuk menenangkan diri. "Tenang Din, sebentar lagi kamu akan terbiasa kok "katanya. Pelan-pelan Dino mengocokkontolnya di nonokku. Masih terasa perih sedikit kocokkan Dino semakin kencang Aneh, perih itu sudah tidak terasa lagi, yang ada hanya rasa nikmat nikmat sekali "Terus Din Terus ahhhh ah .enak ."kataku. Sempat kulirik Agus dan Anggi masih terus bersodomi. Gimana rasanya disodomi ya, pikirku Agus semakin menggencarkan kocokkanyya Aku semakin menggelinjang .ah ternyata ngentot itu nikmat .surga dunia coba dari dulu.. kataku dalam hati ."Din ah.ah .aku aku ."entah apa yang aku ingin ucapkan. Ada sesuatu yang ingin kukeluarkan dari nonokku entah apa "Keluarkan saja sayang kamu mau keluar ."kata Dino. "Ahh iya Din aku mau keluar .."tak lama kemudian terasa cairan hangat dari nonokku .
Dino terus mengocok kontolnya kuat juga pacarku ini, pikirku. "Satu nol, sayang"kata Dino tersenyum. Dino mencopot kontolnya, aku sedikit kecewa "Kenapa dicopot Din.."tanyaku. "Kita coba doggy style, sayang "jawabnya sambil membimbingku berposisi seperti anjing. Dino menusukan kontolnya lagi sekarang badanku terguncang-guncang keras terdengar erangankeras dari Anggi dan Agus, mereka ternyata telah mencapai puncaknya kulihat peluh bercucuran dari kedua tubuh mereka, dan akhirnya mereka terkapar kenikmatan tampak wajah puas dari mereka berdua Aku sudah hampir tiga kali keluar Dino tampak belum apa-apa dia terus mengocok kontolnya di memekku. Sudah hampir ¾ jam aku dientot Dino, tapi tampaknya Dino belum menunjukkan akan selesai. Kuat juga aku lemes sekali lalu Dino mencopot lagi kontolnya dan mengambil baby oil yang tersedia dekat kakinya. Aku ingat baby oil itudipakai untuk melumuri pantat Anggi ketika mau disodomi .eh apakah aku mau disodomi Dino? "Mau ngapain Din "tanyaku penasaran ."Seperti Anggi dan Agus lakukan, Rima aku ingin menyodomimu sayang "jawabnya. Sebenarnya aku takut, tapi terdorong rasa gairahku yang melonjak-lonjak dan keingin tahuanku rasanya disodomi, maka aku mendiamkannya ketika Dino mulai mengolesi lubang pantatku dengan baby oil. Tak lama kemudian, kontol Dino yang masih keras itu diarahkan ke pantatku meleset dicoba lagi kepala kontol Dino tampak mulai merayapi lubang pantatku "Aduuuh sakit Din "kataku ketika kontol itu mulai masuk pantatku. "Tenang sayang nanti juga enggak sakit "jawab Dino sambil melesakkan bagian kontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantatku "Aduuuhh sakiiiitt "kataku lagi. "Tenang Rim, nanti enak deh..aku jadi ketagihan sekarang "kata Anggi sambil mengelus rambutku dan menenangkanku. "Kamu sudah sering disodomi, Nggi?"tanyaku. "Wah bukan sering lagi hampir tiap hari kadang aku yang minta abis enak sih udah tenang saja ayo Dino coba lagi nanti pacarmu pasti ketagihan ayo.."kata Anggi sambil menyuruh Dino mencoba lagi.
Dino mendesakkan lagi kontolnya sehingga seluruhnya amblas ke pantatku. Terasa perih di pantatku ."Tuuh kan sudah masuk tuh enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayak pantatku ini enak kan jadi enggak ada hari libur, kalo lagi mens-pun tetap bisa dientot hi hihi "kata Anggi. Aku diam saja. Ternyata sakit kalo disodomi .Dino mulai mengocok kontolnya di pantatku. "Pelan-pelan, Din masih sakit "pintaku pada Dino. "Iya sayang enak nih sempit"katanya. Anggi ke belakang pantatku dan mengucek-ucek nonokku dengan tangannya aku semakin menggelinjang nikmat "Anggi ah .enak "kataku. "Ayo Din, kocok terus, biar aku mengucek nonoknya, biar rasa sakit itu bercampur rasa nikmat"kata Anggi pada Dino. Benarsekarang rasa sakit itu tidak muncul lagi hanya nikmat ."Hai sayang ini ada lobang nganggur mau pake? Boleh kan Dino? Lubang yang satu ini dipake pacarku Agus "kata Anggi. "Tanya Rima saja deh, aku lagi asyik nih"jawab Agus sambil terus mengocok kontolnya di pantatku. "Gimana Rima? Bolehkan? Enak lo di dobelin aku sering kok "pinta Anggi. "Ah..jangan deh "kataku."Sudahlah Rima, kasih saja aku rela kok"kata Dino. Tiba-tiba Agus merayap di bawahku dan menciumi tetekku. Kontolnya dipegang oleh Anggi dan diarahkan ke nonokku. Dengan sekali hentakan, kontol itu masuk ke nonokku. "Jaang "kataku hendak berteriak jangan tetapi terlambat, kontol itu sudah masuk ke nonokku. Jadilah aku dientot dan disodomi . ½ jam Agus dan Dino mengocok kontolku. Aku lemes sekali baru sekali dientot sudah diduain tanganku sudah tidak kuat menopang badanku. Kakiku lemes sekali. Kenikmatan itu sendiri tidak adaduanya .aku sebenarnya jadi senang dientot berdua begini tapi mungkin kali ini kurang siap.
Aku keluar 2 kali sebelum Agus mencopot kontolnya dan memasukkan kontolnya ke mulut Anggi. Anggi menghirup peju yang keluar dari kontol Agus dengan nikmat. Kemudian Dino melakukan hal yang sama, tadinya aku ragu untuk menghirupnya, tapi lagi-lagi rasa penarasan pada diriku membuatku ingin rasanya menikmati pejunya Dino. Dino memuntahkan pejunya dimulutku akupun menelannya. Ah..rasanya asin dan agak amis setelah kontolnya bersih, Dino mencopot kontolnya dan menciumku yang sudah KO di kasur. "Terima kasih sayang aku puas dan sayang sama kamu "katanya lembut. Aku diam saja sambil merasakan kenikmatan yang baru pertama kali aku rasakan. Badanku lemes sekali Kulihat di seprai ada bercak merah..darah keperawananku dan mungkin bercampur dengan sedikit darah dari pantatku yang mungkin juga sobek karena dirasuki kontol Dino. Aku mencoba duduk, ah masih terasa sakit di kedua lubangku itu, lalu aku menangis di pelukan Dino ."Din, aku sudah enggak perawan lagi sekarang jangan tinggalkan aku yaa ."kataku pada Dino. Kulihat Anggi dan Agus sudah tidur berpelukan dalam keadaan telanjang bulat.
"Iya sayang aku makin cinta sama kamu aku janji enggak akan meninggalkanmu tapi kamu harus janji yaa "katanya. "Bener Din? Kamu enggak ninggalin aku? Tapi janji apa ?"kataku balik bertanya. "Janji, kita akan mengulangi ini lagi aku bener-bener ketagihan sekarang sama nonokmu dan juga pantatmu, sayang "kata Dino sambil mengelus rambutku. Aku diam saja, aku juga ingin lagi..aku juga ketagihan kataku dalam hati. "Janji ya sayang "katanya lagi mendesakku. Aku hanya mengangguk. "Sudah jangan nangis sekarang kamu mau langsung pulang atau mau istirahat dulu?"tawar Dino. Aku pilih istirahat dulu lalu akupun tertidur berpelukan dengan Dino. Hari ini baru pertama kali aku berkenalan dengan sex. Ternyata enak dan nikmat.
ABG
Aku kuliah di suatu perguruan tinggi swasta di Malang, yang mana cerita berawal dari Perkenalanku dengan seorang gadis SMU, gadis ini bernama Naning (panggilannya). Kuakui sangat cantik sekali karena yang kutahu banyak sekali yang suka dengannya. Perkenalanku dengannya berlanjut sampai aku mendekatinya, setelah kutahu dia sudah memiliki pacar. Tapi dalam kamusku aku harus bisa mendapatkannya, karena aku sudah terlampau jauh dan tidak ingin kehilangan dia. Namanya otak kotor sudah banyak sekali di otakku, maka dia kuhasut untuk meninggalkan pacarnya. Tapi namanya mungkin keberuntunganku dia ternyata meninggalkan sang pacar.
Berawal setelah meninggalkan pacarnya, dia sudah dekat denganku dan dalam genggamanku. Berjanji ketemu di rumahnya setelah pulang sekolah, dia kujemput untuk kuajak ke kontrakanku. Setelah sampai di rumahku, kami langsung menuju kamarku untuk bercerita masalah-masalah yang dialaminya. Setelah beberapa waktu kami bercerita, tanpa disadari aku menatap buah dadanya yang begitu padat yang membuat pikiran kotorku mulai bekerja. Kulit putih tinggi semampai selalu menggerogoti otakku untuk menyentuhnya. Aku takut untuk memulainya, tapi dia mulai berkata, “Mas.. kalau di rumah ngapain aja?” tanyanya sambil menatap mataku. Yang kutahu matanya itu memiliki magnet yang sangat besar untuk menarikku. Aku menjawab, “Yaa.. pulang kuliah langsung tidur lagi,” kataku sambil aku mendekat untuk mencium harum tubuhnya. Rupanya entah kenapa nafsuku sudah tak bisa aku bendung, aku makin mendekat. Naning merasa kudekati dan berkata, “Mas kok gelisah sekali sih?” Aku menjawab sambil menahan, “Si Dul berganti posisi duduk.”
Tanpa kusadari Naning melihat ke arah “Dul” punyaku, langsung berkata, “Ehh.. itu Mas kok keliatan?” Aku malu, tapi dia tertawa. Karena sudah ketahuan aku mendekatinya dan langsung kusergap bibirnya yang merah ranum, rupanya dia juga merasakan apa yang kurasakan. Tanpa basa-basi kami sudah larut dalam ciuman yang sangat panjang. Tanganku mulai meraba kedua buah dadanya yang padat, dan tangan satunya ke arah kepala membelai rambutnya yang hitam panjang. Merasa sesuatu ada yang menyentuh buah dadanya, Naning mulai mengeluarkan suara yang kurasa adalah kenikmatannya. Aku tidak berhenti melakukan gerilya di sekujur tubuhnya, sampai aku membuka satu persatu pakaiannya. Dari baju kubuka terlihat buah dada yang padat berisi ditutupi oleh kutang berwarna merah muda, kedua tanganku beralih ke belakang tubuhnya untuk melepas BH-nya, karena aku sudah tidak tahan lagi untuk menjilati buah dadanya.
Setelah terlepas, aku hanya bergumam dalam hati, wah ini baru namanya buah dada, putingnya yang merah muda kecil yang seperti buah cerry langsung kulumat. Naning langsung menjerit seakan terbang ke awan. Wajahku bergantian ke kanan dan ke kiri untuk melumat buah dadanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuka celana jeans-nya. Aku takut juga, dikira laki-laki kurang ajar, namanya otak kotor, ya aku langsung saja melepas kancing celananya dan dia meneruskan membuka celananya. Jantungku berhenti sejenak untuk menyaksikan kulit putih yang ada di hadapanku, sekali lagi aku bergumam, aduh mulusnya tubuh putih ini. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka seluruh pakaianku. Dia berkata, “Cepet Mas.. aku udah gak tahan!” dengan nafas terputus-putus. Membuatku sedikit tergesa-gesa melepaskan pakaianku, mungkin dia tidak ingin melepaskan kenikmatan yang baru didapat. Dia terkejut melihat si “Dul” punyaku yang besar sekali, sambil berkata, “Wahh.. Mas.. kok besar sekali?” Aku menjawab, “Akh masa sich?” sambil aku menindihkan tubuhku di tubuhnya.
Disambut dengan kecupan bibir mungilnya, aku mulai kembali melakukan agresi ke bagian kemaluannya yang berbulu tipis lembut. Jariku mulai mengarah ke rerumputan di sekitarnya dan kulihat matanya berkedip-kedip menahan nikmat yang dirasakan. Pinggulnya mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan ingin mengarahkan jari-jariku untuk masuk ke tempat yang lebih dalam. Begitu jariku mulai meniti ke arah yang lebih dalam, kurasakan jariku basah oleh cairan yang aku sendiri tak tahu. Mungkin itulah kesimpulanku adalah cairah dimana seorang wanita mulai terangsang. Semakin lama aku bermain, semakin dia bergerak lebih agresif dengan mengepitkan kedua pahanya dan tanganku kurasakan tak dapat bergerak oleh hempitan kedua pahanya yang sangat mulus. Hingga saat yang tak kuduga dia mengeluarkan suara tersendat-sendat dengan seluruh tubuh mengejang. Naning berkata, “Akh.. Mass.. aku keluarr..” dengan ucapan yang tak ada hentinya dan kata terakhir yang panjang, “Aaahh..” dan seluruh tubuhnya mulai melemah.
Aku tak mau kalah dengan situasi seperti ini, karena akulah yang ingin sekali merasakan kenikmatan tubuh mulusnya itu. Dengan senjataku yang telah siap untuk mencari mangsa dan siap untuk diberi tugas. Dengan mata yang tegang dia melihat ke arah “Dul”-ku, seperti ingin melahap apa yang ada di hadapannya. Naning bergumam, “Mas.. kok besar sekali?” seperti orang terkejut. Aku tak ambil pusing mau besar atau kecil langsung kutancap gas saja, secara perlahan mulai kuarahkan “Dul”-ku ke kemaluannya, tapi aku susah sekali untuk memulai karena mungkin baru pertama kali ini dia melakukan berhubungan layaknya suami istri. Kubuka kedua belah kakinya sehingga tampaklah sosok yang belum pernah kulihat. Akhirnya dia yang mengarahkan senjataku untuk masuk ke kemaluannya. Sedikit demi sedikit kutekan secara perlahan dan dia mengeluarkan desisan yang membuat badanku seperti bersemangat. Dengan bibir digigit dia menahan rasa, entah sakit atau kenikmatan tapi yang kutahu dia mengeluarkan kata “Sstt.. aakkhh.. terus Mass..” begitu terus, sampai kata-katanya berlanjut dengan.. “Aku pingin yang lama Mass..” permintaannya harus kupenuhi dan aku juga tak ingin membuang-buang kesempatan seperti ini.
Dengan kedua tangannya di punggungku, dia melakukan gerakan-gerakan yang membuat permainan ini semakin terasa nikmat. Aku makin bersemangat bergerak maju dan mundur secara perlahan-lahan, semakin terasa “Dul”-ku mudah melakukan gerakan maju-mundur di dalam vaginanya, maka semakin kencang dan nikmat aku beradu untuk mencapai kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Setelah beberapa saat aku merubah gaya bermainku dengan kedua kakinya kuangkat tinggi di bahuku. Dan permainan berlanjut dengan desahan-desahan nikmat. Kuperhatikan wajahnya sepperti menahan sakit atau apa, kedua tangannya menggenggam seprai kasur dan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan kata-kata yang tak menentu, “Aaakkhh.. Mass.. jangann.. di.. lepass.. yang kuatt.. Mass.. aahhkk.. akuu.. udahh.. gaakk.. tahaann nihh.. aduhh.. Mass.. enakk Mas..” dan dia mengecupkan bibirnya di keningku. Keringat mulai keluar di sekujur tubuhku dan dia tak kuhitung berapa kali si “Dul” keluar masuk ke vaginanya. Tanganku yang tak pernah berhenti memutar, menekan dan meremas buah dadanya bahkan sekali-kali aku melumatnya dengan nafsu yang membara, dia pun setengah berteriak, “Aahk.. Maass.. uuhggk.. Mass.. eemmhh..” begitu seterusnya.
Dan aku merasakan ada sesuatu yang menjepit keras di kemaluanku, rupanya dia sudah akan mencapai puncaknya. “Aaahhkk.. Mas.. aku.. keluar Mas.. aahhkk.. uughh.. Maas..!” sambil memeluk erat tubuhku dan terasa kuku-kukunya mencabik pundakku. Aku hanya mendesis sejenak, setelah dia sudah keluar, aku mulai dengan kegiatanku semula. Secara perlahan aku mulai menggoyangkan pinggulku maju-mundur secara teratur, dia merasakan kesakitan atau kenikmatan aku tak tahu, yang jelas dia ingin ekali lagi mengulanginya. Aku menyuruhnya berganti posisi. Dia sekarang berada di atasku dan kulihat “Dul”-ku masih berdiri tegak menanti adanya sentuhan halus bulunya. Kedua kakiku kuluruskan, Naning mulai dengan membengkangkan kedua pahanya dan tangannya meraih “Dul”-ku dan memasukkan ke dalam vaginanya. “Blep..” begitulah kira-kira antara pertemuan dua kemaluan yang sangat cocok sekali seperti mur dan baut.
Dengan perlahan dia menggoyangkan pinggulnya ke atas dan bawah, “Aaahhkk.. eemmhh.. enaknyaa Mas..” sambil kedua tanganku membelai kedua buah dadanya dan sekali-kali kulumat salah satu dari buah dadanya itu. Rupanya Naning merasakan lain dari yang pertama yang dirasakannya. Ini kulihat dia lebih bersemangat dengan menggoyangkan pinggulnya yang indah bagaikan body gitar. Aku mulai tidak tahan dengan irama permainannya yang sungguh nikmat sekali. Tangannya menarik kepalaku dan menyuruhnya mencium buah dadanya, aku menurut saja apa yang ingin dia lakukan dan itu rupanya berhasil. Sampai saatnya aku akan ejakulasi, kuberi tanda kepada Naning bahwa aku akan keluar. Naning pun tak ingin menyia-nyiakan usahanya untuk mencapai orgasme lagi dan berucap,
“Ssst.. aahk.. Mas.. bareng yaa.. aku juga akan keluar.. teruss.. Mas cium teruss.. Mass.. aahhkk..”
Sambil aku berhitung, “Satu..”
“Aaahkk..” ucapnya.
“Dua..”"Uuughh Mass.. iiyaa.. Mass.. aakuu.. aakkhh..”"Tii.. gaa..”
Kami bersama-sama mengeluarkan kata, “Aaahkkggk..” dan berpelukan erat sekali seperti tak ingin menyiakannya, si “Dul” memuntahkan laharnya. Naning masih terus menggoyangkan pinggulnya.
Sampai akhirnya kami lemas terkulai berdua, dan setelah itu dia menciumku dengan penuh rasa sayang. “Wah.. Mas.. kamu hebat sekali yaa.. seperti berpengalaman saja.” Aku hanya menjawab, “Enggak ah..” dan hari-hari selanjutnya kami selalu menghabiskan waktu berdua. Tanpa ada hambatan aku melakukannya dimana saja, kapan saja, kalau ada kesempatan kami melakukan di rumahku atau di rumahnya.
Berawal setelah meninggalkan pacarnya, dia sudah dekat denganku dan dalam genggamanku. Berjanji ketemu di rumahnya setelah pulang sekolah, dia kujemput untuk kuajak ke kontrakanku. Setelah sampai di rumahku, kami langsung menuju kamarku untuk bercerita masalah-masalah yang dialaminya. Setelah beberapa waktu kami bercerita, tanpa disadari aku menatap buah dadanya yang begitu padat yang membuat pikiran kotorku mulai bekerja. Kulit putih tinggi semampai selalu menggerogoti otakku untuk menyentuhnya. Aku takut untuk memulainya, tapi dia mulai berkata, “Mas.. kalau di rumah ngapain aja?” tanyanya sambil menatap mataku. Yang kutahu matanya itu memiliki magnet yang sangat besar untuk menarikku. Aku menjawab, “Yaa.. pulang kuliah langsung tidur lagi,” kataku sambil aku mendekat untuk mencium harum tubuhnya. Rupanya entah kenapa nafsuku sudah tak bisa aku bendung, aku makin mendekat. Naning merasa kudekati dan berkata, “Mas kok gelisah sekali sih?” Aku menjawab sambil menahan, “Si Dul berganti posisi duduk.”
Tanpa kusadari Naning melihat ke arah “Dul” punyaku, langsung berkata, “Ehh.. itu Mas kok keliatan?” Aku malu, tapi dia tertawa. Karena sudah ketahuan aku mendekatinya dan langsung kusergap bibirnya yang merah ranum, rupanya dia juga merasakan apa yang kurasakan. Tanpa basa-basi kami sudah larut dalam ciuman yang sangat panjang. Tanganku mulai meraba kedua buah dadanya yang padat, dan tangan satunya ke arah kepala membelai rambutnya yang hitam panjang. Merasa sesuatu ada yang menyentuh buah dadanya, Naning mulai mengeluarkan suara yang kurasa adalah kenikmatannya. Aku tidak berhenti melakukan gerilya di sekujur tubuhnya, sampai aku membuka satu persatu pakaiannya. Dari baju kubuka terlihat buah dada yang padat berisi ditutupi oleh kutang berwarna merah muda, kedua tanganku beralih ke belakang tubuhnya untuk melepas BH-nya, karena aku sudah tidak tahan lagi untuk menjilati buah dadanya.
Setelah terlepas, aku hanya bergumam dalam hati, wah ini baru namanya buah dada, putingnya yang merah muda kecil yang seperti buah cerry langsung kulumat. Naning langsung menjerit seakan terbang ke awan. Wajahku bergantian ke kanan dan ke kiri untuk melumat buah dadanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuka celana jeans-nya. Aku takut juga, dikira laki-laki kurang ajar, namanya otak kotor, ya aku langsung saja melepas kancing celananya dan dia meneruskan membuka celananya. Jantungku berhenti sejenak untuk menyaksikan kulit putih yang ada di hadapanku, sekali lagi aku bergumam, aduh mulusnya tubuh putih ini. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka seluruh pakaianku. Dia berkata, “Cepet Mas.. aku udah gak tahan!” dengan nafas terputus-putus. Membuatku sedikit tergesa-gesa melepaskan pakaianku, mungkin dia tidak ingin melepaskan kenikmatan yang baru didapat. Dia terkejut melihat si “Dul” punyaku yang besar sekali, sambil berkata, “Wahh.. Mas.. kok besar sekali?” Aku menjawab, “Akh masa sich?” sambil aku menindihkan tubuhku di tubuhnya.
Disambut dengan kecupan bibir mungilnya, aku mulai kembali melakukan agresi ke bagian kemaluannya yang berbulu tipis lembut. Jariku mulai mengarah ke rerumputan di sekitarnya dan kulihat matanya berkedip-kedip menahan nikmat yang dirasakan. Pinggulnya mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan ingin mengarahkan jari-jariku untuk masuk ke tempat yang lebih dalam. Begitu jariku mulai meniti ke arah yang lebih dalam, kurasakan jariku basah oleh cairan yang aku sendiri tak tahu. Mungkin itulah kesimpulanku adalah cairah dimana seorang wanita mulai terangsang. Semakin lama aku bermain, semakin dia bergerak lebih agresif dengan mengepitkan kedua pahanya dan tanganku kurasakan tak dapat bergerak oleh hempitan kedua pahanya yang sangat mulus. Hingga saat yang tak kuduga dia mengeluarkan suara tersendat-sendat dengan seluruh tubuh mengejang. Naning berkata, “Akh.. Mass.. aku keluarr..” dengan ucapan yang tak ada hentinya dan kata terakhir yang panjang, “Aaahh..” dan seluruh tubuhnya mulai melemah.
Aku tak mau kalah dengan situasi seperti ini, karena akulah yang ingin sekali merasakan kenikmatan tubuh mulusnya itu. Dengan senjataku yang telah siap untuk mencari mangsa dan siap untuk diberi tugas. Dengan mata yang tegang dia melihat ke arah “Dul”-ku, seperti ingin melahap apa yang ada di hadapannya. Naning bergumam, “Mas.. kok besar sekali?” seperti orang terkejut. Aku tak ambil pusing mau besar atau kecil langsung kutancap gas saja, secara perlahan mulai kuarahkan “Dul”-ku ke kemaluannya, tapi aku susah sekali untuk memulai karena mungkin baru pertama kali ini dia melakukan berhubungan layaknya suami istri. Kubuka kedua belah kakinya sehingga tampaklah sosok yang belum pernah kulihat. Akhirnya dia yang mengarahkan senjataku untuk masuk ke kemaluannya. Sedikit demi sedikit kutekan secara perlahan dan dia mengeluarkan desisan yang membuat badanku seperti bersemangat. Dengan bibir digigit dia menahan rasa, entah sakit atau kenikmatan tapi yang kutahu dia mengeluarkan kata “Sstt.. aakkhh.. terus Mass..” begitu terus, sampai kata-katanya berlanjut dengan.. “Aku pingin yang lama Mass..” permintaannya harus kupenuhi dan aku juga tak ingin membuang-buang kesempatan seperti ini.
Dengan kedua tangannya di punggungku, dia melakukan gerakan-gerakan yang membuat permainan ini semakin terasa nikmat. Aku makin bersemangat bergerak maju dan mundur secara perlahan-lahan, semakin terasa “Dul”-ku mudah melakukan gerakan maju-mundur di dalam vaginanya, maka semakin kencang dan nikmat aku beradu untuk mencapai kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Setelah beberapa saat aku merubah gaya bermainku dengan kedua kakinya kuangkat tinggi di bahuku. Dan permainan berlanjut dengan desahan-desahan nikmat. Kuperhatikan wajahnya sepperti menahan sakit atau apa, kedua tangannya menggenggam seprai kasur dan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan kata-kata yang tak menentu, “Aaakkhh.. Mass.. jangann.. di.. lepass.. yang kuatt.. Mass.. aahhkk.. akuu.. udahh.. gaakk.. tahaann nihh.. aduhh.. Mass.. enakk Mas..” dan dia mengecupkan bibirnya di keningku. Keringat mulai keluar di sekujur tubuhku dan dia tak kuhitung berapa kali si “Dul” keluar masuk ke vaginanya. Tanganku yang tak pernah berhenti memutar, menekan dan meremas buah dadanya bahkan sekali-kali aku melumatnya dengan nafsu yang membara, dia pun setengah berteriak, “Aahk.. Maass.. uuhggk.. Mass.. eemmhh..” begitu seterusnya.
Dan aku merasakan ada sesuatu yang menjepit keras di kemaluanku, rupanya dia sudah akan mencapai puncaknya. “Aaahhkk.. Mas.. aku.. keluar Mas.. aahhkk.. uughh.. Maas..!” sambil memeluk erat tubuhku dan terasa kuku-kukunya mencabik pundakku. Aku hanya mendesis sejenak, setelah dia sudah keluar, aku mulai dengan kegiatanku semula. Secara perlahan aku mulai menggoyangkan pinggulku maju-mundur secara teratur, dia merasakan kesakitan atau kenikmatan aku tak tahu, yang jelas dia ingin ekali lagi mengulanginya. Aku menyuruhnya berganti posisi. Dia sekarang berada di atasku dan kulihat “Dul”-ku masih berdiri tegak menanti adanya sentuhan halus bulunya. Kedua kakiku kuluruskan, Naning mulai dengan membengkangkan kedua pahanya dan tangannya meraih “Dul”-ku dan memasukkan ke dalam vaginanya. “Blep..” begitulah kira-kira antara pertemuan dua kemaluan yang sangat cocok sekali seperti mur dan baut.
Dengan perlahan dia menggoyangkan pinggulnya ke atas dan bawah, “Aaahhkk.. eemmhh.. enaknyaa Mas..” sambil kedua tanganku membelai kedua buah dadanya dan sekali-kali kulumat salah satu dari buah dadanya itu. Rupanya Naning merasakan lain dari yang pertama yang dirasakannya. Ini kulihat dia lebih bersemangat dengan menggoyangkan pinggulnya yang indah bagaikan body gitar. Aku mulai tidak tahan dengan irama permainannya yang sungguh nikmat sekali. Tangannya menarik kepalaku dan menyuruhnya mencium buah dadanya, aku menurut saja apa yang ingin dia lakukan dan itu rupanya berhasil. Sampai saatnya aku akan ejakulasi, kuberi tanda kepada Naning bahwa aku akan keluar. Naning pun tak ingin menyia-nyiakan usahanya untuk mencapai orgasme lagi dan berucap,
“Ssst.. aahk.. Mas.. bareng yaa.. aku juga akan keluar.. teruss.. Mas cium teruss.. Mass.. aahhkk..”
Sambil aku berhitung, “Satu..”
“Aaahkk..” ucapnya.
“Dua..”"Uuughh Mass.. iiyaa.. Mass.. aakuu.. aakkhh..”"Tii.. gaa..”
Kami bersama-sama mengeluarkan kata, “Aaahkkggk..” dan berpelukan erat sekali seperti tak ingin menyiakannya, si “Dul” memuntahkan laharnya. Naning masih terus menggoyangkan pinggulnya.
Sampai akhirnya kami lemas terkulai berdua, dan setelah itu dia menciumku dengan penuh rasa sayang. “Wah.. Mas.. kamu hebat sekali yaa.. seperti berpengalaman saja.” Aku hanya menjawab, “Enggak ah..” dan hari-hari selanjutnya kami selalu menghabiskan waktu berdua. Tanpa ada hambatan aku melakukannya dimana saja, kapan saja, kalau ada kesempatan kami melakukan di rumahku atau di rumahnya.
Kania
Sebagai seorang pencari bakat, sebut namaku Mas Boy. Aku sering berhubungan dengan wanita yang berambisi untuk menjadi artis. Sebagai pemandu bakat, tentunya aku punya relasi yang sangat luas dengan para kreator sinetron dan film. Kelebihan inilah yang tidak dimiliki agency model lain. Karena kelebihan inilah membuat banyak model yang mencoba mendekatiku.
Salah satu model yang terus minta aku orbitkan, sebut saja namanya Kania (buan nama sebenarnya) ia adalah model asal salah satu daerah di Yogyakarta. Kania postur tubuhnya terlalu mungil untuk ukuran model, wajahnya juga pas-pasan. Sehingga sulit rasanya untuk masuk pertarungan menjadi seorang artis, yang syarat utamanya adalah harus memiliki wajah cantik dan postur tubuh yang ideal. Tapi karena ambisinya yang besar dan kebetulan sedaerah denganku, membuatku bersimpati kepadanya.
“Mas bantu aku dong agar bisa main sinetron, syukur bisa menjadi model iklan?” pintanya merajuk.
“Ok! Tapi mau jalan lempeng, apa tol?” tanyaku sekenanya.
Karena aku memang sebenarnya nggak tertarik untuk mengorbitkannya. Alasannya tentu saja aku bakal menemukan kesulitan karena wajah Kania yang pas-pasan.
“Yang mana aja juga boleh Mas! Yang penting aku bisa menjadi bintang sinetron!” jawabnya serius.
“Kalau di foto sensual, mau nggak?” tanyaku lagi.
“Boleh, siapa takut!” jawabnya menantang.
Kami pun berjanji untuk sesi pemotretan di salah satu hotel di kawasan Jakarta Kota, keesokan harinya.
Besoknya aku persiapkan peralatan pemotretan yang kumiliki dengan 10 rol film. Kemudian aku menjemput Kania di salah satu apartemen di Jakarta Selatan.
Kemudian kami meluncur ke salah satu hotel di Mangga Besar. Setelah mendapakan kunci kamar dari resepsionis, akupun langsung masuk kamar untuk persiapan pemotretan. Kania langsung membuka pakaiannya dengan sigap, sehingga di hadapanku Kania tinggal memakai CD dan bra yang ukurannya 34 B.
Melihat pemandangan indah ini, sebenarnya aku tidak terlalu terpancing. Karena, sebagai fotografer, aku sudah hampir 20 tahun menghadapi model berkelakukan seperti Kania. Sehingga akupun biasa saja menghadapi tingkah polah Kania. Tapi yang kemudian membuatku ‘naik darah’ adalah sikapnya yang terus memancing dengan gayanya yang berani.
“Begini masih kurang, Mas?” tanyanya menggoda.
“Kalau buka semua, gimana?” pancingku.
“Siapa takut, entar nggak bisa motret kalau aku buka semua,” godanya.
“Masa sih, menghadapi model kayak kamu, aku terpancing” jawabku enteng.
“Bener nich?”
“Iyalah!”
Bener saja, Kania langsung membuka bra dan CD warna pink yang dari tadi menutupi gunung kembar dan gua belantaranya. Sebenarnya aku belum terpancing, tapi ketika aku membetulkan gayanya yang masih kaku. Tiba-tiba Kania memeluk dan menciumku dengan ganasnya. Sebagai laki-laki normal, ada ‘mangsa’ masa aku biarkan. Akhirnya aku terpancing dan akhirnya aku memberikan perlawanan pada Kania yang sepertinya ‘ngetes’ aku.
“Dari tadi kok nggak ada reaksi apa-apa, apa aku kurang menarik. Sehingga kamu nggak nafsu sama aku” katanya sambl terus melumat bibirku.
“Bukannya aku nggak tertarik melihat tubuhmu yang indah ini. Tapi aku harus professional donk. Kerja dulu, baru selanjutnya terserah Anda he.. He.. He..” jawabku jaim.
“Kalau sekarang gimana? Mau terus pemotretan atau..” ujarnya tanpa melanjutkan kata-kata.
“Maunya pemotretan lalu singgah di langit ketujuh,” godaku.
“Ok! Sekarang ke langit ketujuh dulu ya?” pintanya manja.
Tanpa kuminta Kania langsung menyingkirkan kamera yang ada di atas tempat tidur. Setelah menyingkirkan kamera, Kania langsung menyambar bibirku dan menyambar ’senjata pamungkasku’ yang masih terbungkus celana panjang dan CD. Remasan Kania langsung membuatku kelojotan, tanpa ba bi bu lagi ia membuka resleting celanaku dan sementara tanganku terus bergerilya di gunung kembar Kania yang agak kendor tapi masih kenyal untuk dipegang. Begitu ia berhasil membuka CD-ku, ‘rudal scud’-ku mengeras. Kania langsung menciumi batang rudalku yang tidak terlalu panjang.
“Aku akan bawa sampeyan ke langit ketujuh tapi aku minta imbalan, bisa main sinetron ya. Sayang..?” katanya sambil terus mengulum rudalku dengan ganasnya.
Akupun tidak sadarkan diri, karena saking nikmatnya. Tanpa aku sadari, akhirnya kami sudah membuntuk posisi 69. Akupun menjilati gua yang ditumbuhi hutan belantara yang rimbun. Saking rimbunnya membuat saya kesulitan mencari ‘keciknya (itilnya). Akhirnya kecik yang kucari kutemukan dengan mulutku, begitu kusedot keciknya sambil kugigit kecil, Kania menggelepar seperti ikan louhan kekurangan air. Mendapat perlakuanku yang demikian membuat Kania ‘ngerap’ seperti Iwa K.
“Aduuh.. Teruskan Mas. Aku.. Nggak tahan.. Sampeyan kok membuat aku seperti ini sih,” katanya sambil mencengkeram pantatku keras-keras.
Gua Kania tiba-tiba mengeluarkan ‘air bah’ yang berbau harum..
“Maass! Aku ke.. Luaar” katanya sambil mengacak-ngacak rambutku.
Tubuh Kania mengejang, sambil ngoceh nggak karuan dan sambil terus mengulum rudalku.
“Kok, begini enak sih Mas. Sampeyan sering memberi kenikmatan sama model yang lain gak?” Tanyanya penuh selidik.
“Siapa sih yang mau sama aku, fotografer jelek begini” jawabku sambil terus memainkan rongga gua Kania yang basah kuyup.
“Mas, sampeyan tuh ganteng. Seperti Sophan Sophian lo”, katanya sambil mengocok rudalku yang masih mengarah ke mulut Kania.
“Ah. Bisa aja. Aku tuh profesional, motret ya, motret. Kalau kemudian si model ngajak yang macam-macam. Entar dulu” jawabku bohong.
“Benar nich.”
Mendapat jawab seperti itu, eh, Kania langsung bergairah lagi. Kulumannya makin menggila dan nggak sadar dua jari tanganku sudah masuk ke gua Kania dan itu membuat Kania blingsatan.
“Mas.. Aku mau sama punyamu. Jangan pakai tanganmu yang nakal hik hik” pintanya sambil mementokkan rudalku ke pojok tenggorokannya.
“OK! Sayang, aku juga pengin masuk ke gua milikmu yang indah ini.”
Begitu aku membalikkan tubuhku, Kania langsung menyambar rudalku dan memasukkan ke guanya yang sudah banjir lahar..
“Aduuh.. Mas. Uenaak tenan” kicaunya menirukan salah satu joke iklan jamu terkenal.
Mendapat kicauan nggak karuan seperti itu, membuat gairah kelelakianku terus memuncak. Sodokanku makin aku kencangkan, hingga menohok tembok dinding gua Kania dan itu membuatnya berteriak kencang.
“Maas! Nakal amat sih, tapi aku suka.. Lagi, yang lebih kencang Mas..”
Maka sodokanku makin aku hunjamkan dan, akhirnya akupun nggak tahan lagi menahan lahar kental yang dari tadi aku tahan.
“Yang.. Aku mau..”
“Aku juga.. Genjot yang kencang dong”
Lima menit kemudian kami sama-sama mengeluarkan lahar panas yang maha nikmat.
“Mas, aku..”
“Entar ya, aku masih ngos-ngosan nich,” kataku lagi-lagi sekenanya.
“Maksudku, aku memang pernah merasakan rudal bosku yang orang luar yang terkenal gede, tapi aku nggak merasakan nikmat kaya seperti Mas!” ocehnya tanpa aku minta.
“Rudal gede ‘kan impian setiap wanita” kataku.
“Nggak juga, habisnya bosku egois. Kalau udah keluar dia langsung tidur. Sementara aku masih belum apa-apa”
“Sama, aku ‘kan begitu, buktinya aku langsung pingsan kayak gini”
“Tapi aku ‘kan udah orgasme beberapa kali, ini yang membedakan sampeyan sama bosku” katanya jujur.
Setelah terlelap tidur, akupun siuman. Karena mendengar handphone berdering.
“Dari siapa Mas, istri Mas ya” ujarnya sambil memegang rudalku.
“Buk.. Bukan, tapi dari model yang minta aku antarkan ke studio foto” jawabku gugup karena baru bangun tidur.
“Mas aku nggak mau ditinggalin, aku mau lagi. Ya, Mas?” rajuknya.
Mendapat perlakuan manja seperti itu membuat rudalku kembali bangkit. Akhirnya kami pun bergumul lagi.
“Yang, aku mau di kamar mandi ya.. Sambil berdiri kayaknya enak” pintanya penuh fantasi.
Akupun menuruti kemauannya, dengan lahapnya ia menciumku rudalku sambil berjongkok. Ini yang membuatku nggak tahan dan langsung meminta Kania untuk membungkukkan badannya dan membelakangiku. Kania menurut saja dengan perintahku, dari belakang aku melihat gua berwarna merah dengan lahar panas yang mulai meleleh. Aku ciumi dinding vagina Kania dengan lahap dan membuatnya memegang erat bak mandi.
“Mas, masukkan dong rudalmu. Aku mau disodok dari belakang dong, enak kali ya?” lagi-lagi dengan nada manja hingga membuatku menuruti keinginannya.
Tanpa diminta lagi, rudalku aku masukkan ke gua yang benar-benar sudah kuyup. Bless tanpa masalah dan..
“Ahh.. Mas..!!” teriaknya.
Ketika rudalku aku maju mundurkan, Kania tangan Kania langsung menggapai tembok kamar mandi. Apalagi ketika aku meraih dua gunung kembarnya yang bergoyang-goyang menantang untuk aku remas-remas.
“Mas, gila kamu. Kamu kok pintar amat sih. Pakai obat ya, kok kuat amat,” katanya.
Aku kemudian mengangkat separuh tubuhnya yang dari tadi menyender di dinding kamar mandi. Tubuh Kania yang langsing, aku sejajarkan dengan tubuhku dan wajahnya aku balikkan ke wajahku dan kemudian aku lumat bibir mungilnya yang menganga dari tadi.
“Mas. Kok enak gini ya, masih lama ya.. Kok rudalnya makin keras aja sih” ujarnya sambil terus melumat lidahku ke tenggorokannya.
Aliran lahar mulai menjalar di rudalku dan nampaknya Kania juga merasakan lahar kenikmatan itu.
“Mas, ahh.. yach.. Pentokin dong”
Tanpa sadar aku menyodokkan rudalku sekencang-kencangnya sambil memuntahkan lahar kenikmatan untuk kedua kalinya.
Kania masih tetap minta digenjot, aku nggak kuat lagi menyodok. Kania nggak kekurangan akal, Kania menyuruhku duduk di kloset duduk. Karena kondisiku sudah lemas, aku menurut saja. Begitu aku duduk di kloset, Kania langsung duduk di atas pahaku sambil menusukkan rudalku ke guanya.
Kami terus bergumul hingga tanpa aku sadari kelaki-lakianku bangkit lagi. Kemudian aku balas keganasan Kania dan kini aku yang memintanya untuk kembali ke tempat tidur. Di tempat tidur, akulah yang aktif memberikan kenikmatan pada Kania. Sehingga Kania memancarkan lahar kenikmatan untuk terakhir kalinya.
Jam sudah menunjukan, angka 09.00, Kania minta diantarkan ke apartemennya.
“Mas, aku pulang dulu ya, takut bosku pulang. Besok kalau ada waktu dan Mas mau, aku hubungi Mas. Kita janjian lagi,” katanya.
Pada pukul sebelas malam aku mendapatkan calling dari salah satu produksi sinetron untuk menggunakan Kania sebagai salah satu aktrisnya tahun ini. Artinya aku, sudah membayar puncak kenikmatan yang diberikan oleh Kania kemarin dengan lunas! Tamat
Salah satu model yang terus minta aku orbitkan, sebut saja namanya Kania (buan nama sebenarnya) ia adalah model asal salah satu daerah di Yogyakarta. Kania postur tubuhnya terlalu mungil untuk ukuran model, wajahnya juga pas-pasan. Sehingga sulit rasanya untuk masuk pertarungan menjadi seorang artis, yang syarat utamanya adalah harus memiliki wajah cantik dan postur tubuh yang ideal. Tapi karena ambisinya yang besar dan kebetulan sedaerah denganku, membuatku bersimpati kepadanya.
“Mas bantu aku dong agar bisa main sinetron, syukur bisa menjadi model iklan?” pintanya merajuk.
“Ok! Tapi mau jalan lempeng, apa tol?” tanyaku sekenanya.
Karena aku memang sebenarnya nggak tertarik untuk mengorbitkannya. Alasannya tentu saja aku bakal menemukan kesulitan karena wajah Kania yang pas-pasan.
“Yang mana aja juga boleh Mas! Yang penting aku bisa menjadi bintang sinetron!” jawabnya serius.
“Kalau di foto sensual, mau nggak?” tanyaku lagi.
“Boleh, siapa takut!” jawabnya menantang.
Kami pun berjanji untuk sesi pemotretan di salah satu hotel di kawasan Jakarta Kota, keesokan harinya.
Besoknya aku persiapkan peralatan pemotretan yang kumiliki dengan 10 rol film. Kemudian aku menjemput Kania di salah satu apartemen di Jakarta Selatan.
Kemudian kami meluncur ke salah satu hotel di Mangga Besar. Setelah mendapakan kunci kamar dari resepsionis, akupun langsung masuk kamar untuk persiapan pemotretan. Kania langsung membuka pakaiannya dengan sigap, sehingga di hadapanku Kania tinggal memakai CD dan bra yang ukurannya 34 B.
Melihat pemandangan indah ini, sebenarnya aku tidak terlalu terpancing. Karena, sebagai fotografer, aku sudah hampir 20 tahun menghadapi model berkelakukan seperti Kania. Sehingga akupun biasa saja menghadapi tingkah polah Kania. Tapi yang kemudian membuatku ‘naik darah’ adalah sikapnya yang terus memancing dengan gayanya yang berani.
“Begini masih kurang, Mas?” tanyanya menggoda.
“Kalau buka semua, gimana?” pancingku.
“Siapa takut, entar nggak bisa motret kalau aku buka semua,” godanya.
“Masa sih, menghadapi model kayak kamu, aku terpancing” jawabku enteng.
“Bener nich?”
“Iyalah!”
Bener saja, Kania langsung membuka bra dan CD warna pink yang dari tadi menutupi gunung kembar dan gua belantaranya. Sebenarnya aku belum terpancing, tapi ketika aku membetulkan gayanya yang masih kaku. Tiba-tiba Kania memeluk dan menciumku dengan ganasnya. Sebagai laki-laki normal, ada ‘mangsa’ masa aku biarkan. Akhirnya aku terpancing dan akhirnya aku memberikan perlawanan pada Kania yang sepertinya ‘ngetes’ aku.
“Dari tadi kok nggak ada reaksi apa-apa, apa aku kurang menarik. Sehingga kamu nggak nafsu sama aku” katanya sambl terus melumat bibirku.
“Bukannya aku nggak tertarik melihat tubuhmu yang indah ini. Tapi aku harus professional donk. Kerja dulu, baru selanjutnya terserah Anda he.. He.. He..” jawabku jaim.
“Kalau sekarang gimana? Mau terus pemotretan atau..” ujarnya tanpa melanjutkan kata-kata.
“Maunya pemotretan lalu singgah di langit ketujuh,” godaku.
“Ok! Sekarang ke langit ketujuh dulu ya?” pintanya manja.
Tanpa kuminta Kania langsung menyingkirkan kamera yang ada di atas tempat tidur. Setelah menyingkirkan kamera, Kania langsung menyambar bibirku dan menyambar ’senjata pamungkasku’ yang masih terbungkus celana panjang dan CD. Remasan Kania langsung membuatku kelojotan, tanpa ba bi bu lagi ia membuka resleting celanaku dan sementara tanganku terus bergerilya di gunung kembar Kania yang agak kendor tapi masih kenyal untuk dipegang. Begitu ia berhasil membuka CD-ku, ‘rudal scud’-ku mengeras. Kania langsung menciumi batang rudalku yang tidak terlalu panjang.
“Aku akan bawa sampeyan ke langit ketujuh tapi aku minta imbalan, bisa main sinetron ya. Sayang..?” katanya sambil terus mengulum rudalku dengan ganasnya.
Akupun tidak sadarkan diri, karena saking nikmatnya. Tanpa aku sadari, akhirnya kami sudah membuntuk posisi 69. Akupun menjilati gua yang ditumbuhi hutan belantara yang rimbun. Saking rimbunnya membuat saya kesulitan mencari ‘keciknya (itilnya). Akhirnya kecik yang kucari kutemukan dengan mulutku, begitu kusedot keciknya sambil kugigit kecil, Kania menggelepar seperti ikan louhan kekurangan air. Mendapat perlakuanku yang demikian membuat Kania ‘ngerap’ seperti Iwa K.
“Aduuh.. Teruskan Mas. Aku.. Nggak tahan.. Sampeyan kok membuat aku seperti ini sih,” katanya sambil mencengkeram pantatku keras-keras.
Gua Kania tiba-tiba mengeluarkan ‘air bah’ yang berbau harum..
“Maass! Aku ke.. Luaar” katanya sambil mengacak-ngacak rambutku.
Tubuh Kania mengejang, sambil ngoceh nggak karuan dan sambil terus mengulum rudalku.
“Kok, begini enak sih Mas. Sampeyan sering memberi kenikmatan sama model yang lain gak?” Tanyanya penuh selidik.
“Siapa sih yang mau sama aku, fotografer jelek begini” jawabku sambil terus memainkan rongga gua Kania yang basah kuyup.
“Mas, sampeyan tuh ganteng. Seperti Sophan Sophian lo”, katanya sambil mengocok rudalku yang masih mengarah ke mulut Kania.
“Ah. Bisa aja. Aku tuh profesional, motret ya, motret. Kalau kemudian si model ngajak yang macam-macam. Entar dulu” jawabku bohong.
“Benar nich.”
Mendapat jawab seperti itu, eh, Kania langsung bergairah lagi. Kulumannya makin menggila dan nggak sadar dua jari tanganku sudah masuk ke gua Kania dan itu membuat Kania blingsatan.
“Mas.. Aku mau sama punyamu. Jangan pakai tanganmu yang nakal hik hik” pintanya sambil mementokkan rudalku ke pojok tenggorokannya.
“OK! Sayang, aku juga pengin masuk ke gua milikmu yang indah ini.”
Begitu aku membalikkan tubuhku, Kania langsung menyambar rudalku dan memasukkan ke guanya yang sudah banjir lahar..
“Aduuh.. Mas. Uenaak tenan” kicaunya menirukan salah satu joke iklan jamu terkenal.
Mendapat kicauan nggak karuan seperti itu, membuat gairah kelelakianku terus memuncak. Sodokanku makin aku kencangkan, hingga menohok tembok dinding gua Kania dan itu membuatnya berteriak kencang.
“Maas! Nakal amat sih, tapi aku suka.. Lagi, yang lebih kencang Mas..”
Maka sodokanku makin aku hunjamkan dan, akhirnya akupun nggak tahan lagi menahan lahar kental yang dari tadi aku tahan.
“Yang.. Aku mau..”
“Aku juga.. Genjot yang kencang dong”
Lima menit kemudian kami sama-sama mengeluarkan lahar panas yang maha nikmat.
“Mas, aku..”
“Entar ya, aku masih ngos-ngosan nich,” kataku lagi-lagi sekenanya.
“Maksudku, aku memang pernah merasakan rudal bosku yang orang luar yang terkenal gede, tapi aku nggak merasakan nikmat kaya seperti Mas!” ocehnya tanpa aku minta.
“Rudal gede ‘kan impian setiap wanita” kataku.
“Nggak juga, habisnya bosku egois. Kalau udah keluar dia langsung tidur. Sementara aku masih belum apa-apa”
“Sama, aku ‘kan begitu, buktinya aku langsung pingsan kayak gini”
“Tapi aku ‘kan udah orgasme beberapa kali, ini yang membedakan sampeyan sama bosku” katanya jujur.
Setelah terlelap tidur, akupun siuman. Karena mendengar handphone berdering.
“Dari siapa Mas, istri Mas ya” ujarnya sambil memegang rudalku.
“Buk.. Bukan, tapi dari model yang minta aku antarkan ke studio foto” jawabku gugup karena baru bangun tidur.
“Mas aku nggak mau ditinggalin, aku mau lagi. Ya, Mas?” rajuknya.
Mendapat perlakuan manja seperti itu membuat rudalku kembali bangkit. Akhirnya kami pun bergumul lagi.
“Yang, aku mau di kamar mandi ya.. Sambil berdiri kayaknya enak” pintanya penuh fantasi.
Akupun menuruti kemauannya, dengan lahapnya ia menciumku rudalku sambil berjongkok. Ini yang membuatku nggak tahan dan langsung meminta Kania untuk membungkukkan badannya dan membelakangiku. Kania menurut saja dengan perintahku, dari belakang aku melihat gua berwarna merah dengan lahar panas yang mulai meleleh. Aku ciumi dinding vagina Kania dengan lahap dan membuatnya memegang erat bak mandi.
“Mas, masukkan dong rudalmu. Aku mau disodok dari belakang dong, enak kali ya?” lagi-lagi dengan nada manja hingga membuatku menuruti keinginannya.
Tanpa diminta lagi, rudalku aku masukkan ke gua yang benar-benar sudah kuyup. Bless tanpa masalah dan..
“Ahh.. Mas..!!” teriaknya.
Ketika rudalku aku maju mundurkan, Kania tangan Kania langsung menggapai tembok kamar mandi. Apalagi ketika aku meraih dua gunung kembarnya yang bergoyang-goyang menantang untuk aku remas-remas.
“Mas, gila kamu. Kamu kok pintar amat sih. Pakai obat ya, kok kuat amat,” katanya.
Aku kemudian mengangkat separuh tubuhnya yang dari tadi menyender di dinding kamar mandi. Tubuh Kania yang langsing, aku sejajarkan dengan tubuhku dan wajahnya aku balikkan ke wajahku dan kemudian aku lumat bibir mungilnya yang menganga dari tadi.
“Mas. Kok enak gini ya, masih lama ya.. Kok rudalnya makin keras aja sih” ujarnya sambil terus melumat lidahku ke tenggorokannya.
Aliran lahar mulai menjalar di rudalku dan nampaknya Kania juga merasakan lahar kenikmatan itu.
“Mas, ahh.. yach.. Pentokin dong”
Tanpa sadar aku menyodokkan rudalku sekencang-kencangnya sambil memuntahkan lahar kenikmatan untuk kedua kalinya.
Kania masih tetap minta digenjot, aku nggak kuat lagi menyodok. Kania nggak kekurangan akal, Kania menyuruhku duduk di kloset duduk. Karena kondisiku sudah lemas, aku menurut saja. Begitu aku duduk di kloset, Kania langsung duduk di atas pahaku sambil menusukkan rudalku ke guanya.
Kami terus bergumul hingga tanpa aku sadari kelaki-lakianku bangkit lagi. Kemudian aku balas keganasan Kania dan kini aku yang memintanya untuk kembali ke tempat tidur. Di tempat tidur, akulah yang aktif memberikan kenikmatan pada Kania. Sehingga Kania memancarkan lahar kenikmatan untuk terakhir kalinya.
Jam sudah menunjukan, angka 09.00, Kania minta diantarkan ke apartemennya.
“Mas, aku pulang dulu ya, takut bosku pulang. Besok kalau ada waktu dan Mas mau, aku hubungi Mas. Kita janjian lagi,” katanya.
Pada pukul sebelas malam aku mendapatkan calling dari salah satu produksi sinetron untuk menggunakan Kania sebagai salah satu aktrisnya tahun ini. Artinya aku, sudah membayar puncak kenikmatan yang diberikan oleh Kania kemarin dengan lunas! Tamat
Rindu Yang Tertahan
Siang itu di sebuah rumah yang cukup asri, seorang gadis yang berambut panjang terurai dengan raut wajah yang manis terlihat sedang menanti kedatangan seseorang. Tiba-tiba datang seorang pemuda yang mengenakan kaos biru di padu dengan jeans warna serupa. Dia berjalan menuju kerumah gadis yang sedang asyik duduk di depan rumahnya, si gadis sesekali mengawasi depan rumahnya kalau-kalau yang di tunggu sudah datang atau belum.
Dengan senyum yang manis kemudian gadis itu menyapa sang pemuda yang kelihatan rapi, harum dan segar siang itu.
“Hallo Mas Adietya sayang..” sapanya dengan panggilan khas yang mesra ke padaku.
“Hallo juga.. Sayang,” balasku pendek.
“Sudah lama yah nunggunya,” lanjutku lagi.
Antara aku dan si gadis memang terlihat mesra di setiap kesempatan apa aja. Baik itu melalui panggilan ataupun sikap terhadap masing-masing. Seperti halnya siang itu, yang kebetulan keadaan di rumah sang gadis nampaknya sedang sepi, dia bilang ortunya lagi ke rumah saudaranya yang pulangnya nanti sore.
Dengan masih menyimpan rasa rindu yang tertahan, aku memeluk gadis pujaanku dengan mesra, sambil membisikan kata.
“Adiet kangen banget nih sayang,” bisikku di telinga nya sambil mencumbu daun telinganya.
“aku juga kangen Mas sayang..” jawabnya pelan.
Kemudian kita terlibat perbincangan sesaat, yang selanjutnya aku merengkuh bahu si gadis dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan tamu. Di sofa kita duduk sangat dekat sekali, sampai-sampai kita bisa merasakan hembusan nafas masing-masing, saat kita bertatapan wajah.
“Kamu cantik sekali siang ini sayang..” kataku lembut.
Sembari tanganku meremas kedua tangannya dan kemudian aku lanjutkan untuk menarik tubuhnya lebih rapat. Si gadis tak menjawab hanya tersipu raut wajahnya, yang di ekspresikan dengan memelukku erat. Tanganku kemudian memegang kedua pipinya dan tak lama bibirku sudah mengulum bibirnya yang terbuka sedikit dan bentuknya yang ranum, sembari dia memejamkan kedua bola matanya.
Lidahku bermain di rongga mulutnya untuk memberikan perasaan yang membuat nya mendesah sesaat setelahnya. Di balik punggungnya jemari tanganku dengan lembut masuk ke dalam kaos warna putihnya dan mencoba membuka kaitan bra dari belakang punggungnya. Dengan dua kali gerakan, terbukalah kaitan bra hitamnya yang berukuran 36b itu.
Jemari tanganku langsung mengelus tepian payudaranya yang begitu kenyal dan menggairahkan itu. Dan tak lama setelah itu jariku sudah memilin putingnya yang mulai keras, yang nampaknya dia mulai menikmati dan sudah terangsang diiringi dengan desahannya yang sensual.
“Ohh.. Mas sayang..” desahnya lembut.
Sambil memilin, bibirku tak lepas dari bibirnya dan menyeruak lebih ke dalam yang sesekali mulutku menghisap lidahnya keluar masuk. Selanjutnya dengan gerakan pelan aku membuka kaos putihnya dan langsung mulutku menelusuri payudaranya dan berakhir di putingnya yang menonjol kecil. Aku menjulurkan lidahku tepat di ujung payudaranya, yang membuat dia menggelinjang dan mendesah kembali.
“Ohh.. Mas sayang.. Enak sekali.”
Sesaat aku menghentikan cumbuanku kepadanya dan memegang kedua pipinya kembali sambil membisikkan kata.
“Sayang.. Payudara kamu sungguh indah bentukya,” bisikku lirih di telinganya.
Sang gadis hanya mengulum senyumnya yang manis sembari kembali memelukku mesra. Dengan mesra aku mengajak si gadis berjalan ke arah kamarnya yang lumayan besar dan bersih. Layaknya kamar seorang gadis yang tertata rapi dan aroma segar wangi bunga-bunga yang ada ditaman depan kamarnya terhirup olehku saat memasukinya.
Tak berselang lama kemudian, aku mengangkat tubuh sexy sang gadis dan meletakkannya di atas meja belajar yang ada di kamarnya. Sang gadis masih mengenakan celana jeansnya, kecuali bagian atasnya yang sudah terbuka saat kita berasyik masyuk di ruang tamu. Perlahan aku memeluk tubuh sang gadis kembali, yang aku lanjutkan dengan menjelajahi leher jenjangnya dengan lembut.
Bibirku mencumbui setiap senti permukaan kulitnya dan berpindah sesaat ketika lidahku mencapai belakang telinganya dan membuat tubuh sang gadis kembali bergetar pelan. Desahan dan getaran tubuhnya menandakan kalau sang gadis sudah sangat terangsang oleh setiap cumbuanku. Tanganku tak tinggal diam sementara bibirku mencumbui setiap titik sensitif yang ada di tubuh sang gadis. Jemariku mulai mengarah kebawah menuju celana jeans nya dan tanpa kesulitan aku menurunkan resliting celananya yang nampak olehku pinggiran celana dalam warna hitamnya yang sexy.
Kemudian aku melemparkan celana jeansnya ke lantai dan seketika tanganku dengan lembut merengkuh bongkahan pantatnya yang padat berisi. Aku mengelus kedua bongkahannya pelan dan sesekali jariku menyelip di antara tepian celana dalamnya yag membuat bibirnya kembali bergetar mendesah lirih.
“Oh.. Mas sayang..” desahnya parau.
Bibirku yang sejak tadi bermain di atas, kemudian berpindah setelah aku merasakan cukup untuk merangsangnya di bagian itu. Lidahku menjulur lembut ketika mencapai permukaan kulit perutnya yang berakhir di pusarnya dan bermain sejenak yang mengakibatkan tubuhnya menggelinjang kedepan.
“Ssshh..” desisnya lirih.
Perlahan kemudian aku mulai menurunkan celana dalamnya dan aku membiarkan menggantung di lututnya yang sexy. Kembali aku melanjutkan cumbuan yang mengarah ke tepian pangkal pahanya dengan lembut dan sesekali aku mendengar sang gadis mendesah lagi. Aku mencium aroma khas setelah lidahku mencapai bukitnya yang berbulu hitam dan lebat sekali, namun cukup terawat terlihat olehku sekilas dari bentuk bulu vaginanya yang menyerupai garis segitiga.
Dan tak lama lidahku sudah menjilati bibir luar vaginanya dengan memutar ujung lidahku lembut. Kemudian aku lanjutkan dengan menjulurkan lebih ke dalam lagi untuk mencapai bibir dalamnya yang sudah sangat basah oleh lendir kenikmatan yang di keluarkan dari lubang vaginanya. Tubuh sang gadis mengelinjang perlahan bersamaan dengan tersentuhnya benjolan kecil di atas vagina miliknya oleh ujung lidahku.
“Ohh.. Mas sayang” jeritnya tertahan.
“Aku nggak kuat Mas..” tambahnya lirih.
Yang aku lanjutkan dengan menghentikan tindakanku sesaat. Aku menurunkan tubuh sang gadis dari atas meja, kemudian aku berdiri tepat di hadapanya yang sudah berjongkok sambil menatap penisku yang sudah berdiri tegang sekali.
Dengan gerakan lincah bibir sang gadis langsung mengulum kepala penisku dengan lembut dan memutar lidahnya di dalam mulutnya yang mungil dan memilin kepala penisku yang mengkilat. Tubuhku bergetar hebat ketika menerima semua gerakan erotis mulai dari jemari tangannya yang lembut mengelus batang penisku serta bibir dan lidahnya yang lincah menelusuri buah zakarku.
“Ohh.. Sayang” desahku pelan.
Rambutnya yang hitam panjang ku remas sebagai expresi dari kenikmatan yang mengalir di sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat sang gadis menjelajahi organ sensitifku, aku merengkuh bahunya serta memintanya berdiri dan kembali aku mendudukkan pantatnya yang padat berisi di tepian meja sementara salah satu kaki jenjangnya menjuntai ke lantai.
Dengan gerakan lembut aku mengangkat paha kirinya dan bertumpu pada lenganku, di saat selanjutnya tangan kiriku memegang batang penisku yang sudah sangat tegang sekali menahan rangsangan yang menggelora dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya yang sudah basah oleh lendir birahi. Pada saat bersamaan ujung telunjukku juga mengelus belahan antara anus dan bibir bawah vaginyanya.
“Oh.. Mas sayang.. Please.. Aku enggak kuat” jeritnya lirih.
Aku masih belum merespon atas jeritan lirihnya, sebaliknya aku menundukkan kepala untuk kembali menjilati kedua payudaranya bergantian dan berakhir di puting payudara yang sebelah kiri. Gerakanku membuatnya menggelinjang dan semakin keras desahannya terdengar.
“Ohh.. Mas sayang.. Sekarang yah” pintanya lirih, dengan mata yang sayup penuh nafsu.
Perlahan aku mengarahkan batang penisku tepat di belahan vaginanya dan mendorongnya lembut.
“Slepp..” irama yang di timbulkan ketika penisku sudah menyeruak bibir vaginanya.
Kembali bibir sang gadis mengeluarkan desahan sexynya.
“Hekk.. Mmm..” gumamnya lirih.
Setengah dari batang penisku sudah masuk ke dalam vaginanya, yang aku padukan dengan gerakan bibirku mengulum bibirnya yang ranum serta memilin dan memutar ujung lidahnya lembut. Untuk menambah kenikmatan buat dirinya, aku mulai memajukan sedikit demi sedikit sisa batang penisku ke rongga vaginanya yang paling dalam dan aku mengarahkan ujung penisku menyentuh G-spotnya. Mulut sang gadis menggumam lirih karena mulutku juga masih mengulum bibirnya.
“Mmm.. Mmm” gumamnya.
Sambil menahan nikmat, tangan sang gadis menyentuh buah zakarku dan memijitnya lembut yang membuat tubuhku ikut mengelinjang menahan kenikmatan yang sama. Pinggulku membuat gerakan maju mundur untuk kesekian kalinya dan sepertinya sang gadis akan mendapatkan orgasme pertamanya ditandai dengan gerakan tangannya yang merengkuh bahuku erat dan menggigit bibir bawahnya lirih.
“Ohh.. Mas sayangg..” jeritnya bergetar.
Bersamaan dengan aliran hangat yang kurasakan di dalam, rongga vaginanya menjepit erat batang penisku. Tangannya merengkuh bongkahan pantatku serta menariknya lebih erat lagi. Tak lama berselang sang gadis kemudian tersenyum manis dan mengecup bibirku kembali sambil mengucapkan kata.
“Thanks yah.. Mas sayang”ucapnya mesra.
Aku membalasnya dengan memberikan senyum dan mengatakan.
“Aku bahagia.. kalau sayang bisa menikmati semua ini” ucapku kemudian.
Hanya beberapa saat setelah sang gadis mendapatkan orgasmenya, aku membalikkan tubuhnya membelakangiku sembari kedua tanganya berpegang pada pingiran meja. Dengan pelan kutarik pinggangnya sambil memintanya menunduk, maka nampaklah di depanku bongkahan pantatnya yang sexy dengan belahan vaginanya yang menggairahkan.
Perlahan aku memajukan tubuhku sambil memegang batang penisku dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya, sementara kaki kananku mengeser kaki kanannya untuk membuka pahanya sedikit melebar. Dengan gerakan mantap penisku menyeruak sedikit demi sedikit membelah vaginanya lembut.
“Slepp..” masuklah setengah batang penisku ke dalam rongga vaginanya.
“Sss..” sang gadis mendesah menerima desakan penisku.
Tanganku perlahan meremas payudaranya dari belakang mulai dari yang sebelah kiri dan dilanjutkan dengan yang sebelah kanan secara bergantian. Sementara pinggulku memulai gerakan maju mundur untuk kembali menyeruak rongga vaginanya lebih dalam.
Posisi ini menimbulkan sensasi tersendiri dimana seluruh batang penisku dapat menyentuh G-spotnya, sementara tanganku dengan bebas menjelajahi seluruh organ sensitifnya mulai dari kedua payudara berikut putingnya dan belahan anus dan bagian tubuh lainnya.
“Ohh.. Mas sayang” desahnya.
Ketika ujung jemariku menyentuh lubang anusnya sambil aku berkonsentrasi memaju mundurkan penisku. Setelah cukup beberapa saat aku menggerakan pinggulku memompa belahan vaginanya. Dengan gerakan lembut aku menarik wajahnya mendekat, masih dalam posisi membelakangiku aku mengulum bibirnya dan meremas kedua payudaranya lembut.
“Sayang aku mau keluar nih,” bisiku lirih.
“Ohh.. Mas sayang aku juga mau” sahutnya pelan.
Aku mempercepat gerakanku memompa vaginanya dari belakang tanpa melepas ciumanku di bibirnya dan remasan ku di kedua payudaranya. Pada saat terakhir aku mencengkeram kedua pinggulnya erat dan memajukan penisku lebih dalam.
“Creett.. Ohh.. Sayang,” jeritku kemudian.
Menyemburlah spermaku yang cukup banyak ke dalam rongga vaginanya dan beberapa tetes meleleh keluar mengalir di kedua pahanya. Untuk beberapa saat aku mendiamkan kejadian ini sampai akhirnya penisku mengecil dengan sendirinya di dalam vaginanya yang telah memberikan kenikmatan yang tak bisa aku ungkapkan.
Dengan senyum yang manis kemudian gadis itu menyapa sang pemuda yang kelihatan rapi, harum dan segar siang itu.
“Hallo Mas Adietya sayang..” sapanya dengan panggilan khas yang mesra ke padaku.
“Hallo juga.. Sayang,” balasku pendek.
“Sudah lama yah nunggunya,” lanjutku lagi.
Antara aku dan si gadis memang terlihat mesra di setiap kesempatan apa aja. Baik itu melalui panggilan ataupun sikap terhadap masing-masing. Seperti halnya siang itu, yang kebetulan keadaan di rumah sang gadis nampaknya sedang sepi, dia bilang ortunya lagi ke rumah saudaranya yang pulangnya nanti sore.
Dengan masih menyimpan rasa rindu yang tertahan, aku memeluk gadis pujaanku dengan mesra, sambil membisikan kata.
“Adiet kangen banget nih sayang,” bisikku di telinga nya sambil mencumbu daun telinganya.
“aku juga kangen Mas sayang..” jawabnya pelan.
Kemudian kita terlibat perbincangan sesaat, yang selanjutnya aku merengkuh bahu si gadis dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan tamu. Di sofa kita duduk sangat dekat sekali, sampai-sampai kita bisa merasakan hembusan nafas masing-masing, saat kita bertatapan wajah.
“Kamu cantik sekali siang ini sayang..” kataku lembut.
Sembari tanganku meremas kedua tangannya dan kemudian aku lanjutkan untuk menarik tubuhnya lebih rapat. Si gadis tak menjawab hanya tersipu raut wajahnya, yang di ekspresikan dengan memelukku erat. Tanganku kemudian memegang kedua pipinya dan tak lama bibirku sudah mengulum bibirnya yang terbuka sedikit dan bentuknya yang ranum, sembari dia memejamkan kedua bola matanya.
Lidahku bermain di rongga mulutnya untuk memberikan perasaan yang membuat nya mendesah sesaat setelahnya. Di balik punggungnya jemari tanganku dengan lembut masuk ke dalam kaos warna putihnya dan mencoba membuka kaitan bra dari belakang punggungnya. Dengan dua kali gerakan, terbukalah kaitan bra hitamnya yang berukuran 36b itu.
Jemari tanganku langsung mengelus tepian payudaranya yang begitu kenyal dan menggairahkan itu. Dan tak lama setelah itu jariku sudah memilin putingnya yang mulai keras, yang nampaknya dia mulai menikmati dan sudah terangsang diiringi dengan desahannya yang sensual.
“Ohh.. Mas sayang..” desahnya lembut.
Sambil memilin, bibirku tak lepas dari bibirnya dan menyeruak lebih ke dalam yang sesekali mulutku menghisap lidahnya keluar masuk. Selanjutnya dengan gerakan pelan aku membuka kaos putihnya dan langsung mulutku menelusuri payudaranya dan berakhir di putingnya yang menonjol kecil. Aku menjulurkan lidahku tepat di ujung payudaranya, yang membuat dia menggelinjang dan mendesah kembali.
“Ohh.. Mas sayang.. Enak sekali.”
Sesaat aku menghentikan cumbuanku kepadanya dan memegang kedua pipinya kembali sambil membisikkan kata.
“Sayang.. Payudara kamu sungguh indah bentukya,” bisikku lirih di telinganya.
Sang gadis hanya mengulum senyumnya yang manis sembari kembali memelukku mesra. Dengan mesra aku mengajak si gadis berjalan ke arah kamarnya yang lumayan besar dan bersih. Layaknya kamar seorang gadis yang tertata rapi dan aroma segar wangi bunga-bunga yang ada ditaman depan kamarnya terhirup olehku saat memasukinya.
Tak berselang lama kemudian, aku mengangkat tubuh sexy sang gadis dan meletakkannya di atas meja belajar yang ada di kamarnya. Sang gadis masih mengenakan celana jeansnya, kecuali bagian atasnya yang sudah terbuka saat kita berasyik masyuk di ruang tamu. Perlahan aku memeluk tubuh sang gadis kembali, yang aku lanjutkan dengan menjelajahi leher jenjangnya dengan lembut.
Bibirku mencumbui setiap senti permukaan kulitnya dan berpindah sesaat ketika lidahku mencapai belakang telinganya dan membuat tubuh sang gadis kembali bergetar pelan. Desahan dan getaran tubuhnya menandakan kalau sang gadis sudah sangat terangsang oleh setiap cumbuanku. Tanganku tak tinggal diam sementara bibirku mencumbui setiap titik sensitif yang ada di tubuh sang gadis. Jemariku mulai mengarah kebawah menuju celana jeans nya dan tanpa kesulitan aku menurunkan resliting celananya yang nampak olehku pinggiran celana dalam warna hitamnya yang sexy.
Kemudian aku melemparkan celana jeansnya ke lantai dan seketika tanganku dengan lembut merengkuh bongkahan pantatnya yang padat berisi. Aku mengelus kedua bongkahannya pelan dan sesekali jariku menyelip di antara tepian celana dalamnya yag membuat bibirnya kembali bergetar mendesah lirih.
“Oh.. Mas sayang..” desahnya parau.
Bibirku yang sejak tadi bermain di atas, kemudian berpindah setelah aku merasakan cukup untuk merangsangnya di bagian itu. Lidahku menjulur lembut ketika mencapai permukaan kulit perutnya yang berakhir di pusarnya dan bermain sejenak yang mengakibatkan tubuhnya menggelinjang kedepan.
“Ssshh..” desisnya lirih.
Perlahan kemudian aku mulai menurunkan celana dalamnya dan aku membiarkan menggantung di lututnya yang sexy. Kembali aku melanjutkan cumbuan yang mengarah ke tepian pangkal pahanya dengan lembut dan sesekali aku mendengar sang gadis mendesah lagi. Aku mencium aroma khas setelah lidahku mencapai bukitnya yang berbulu hitam dan lebat sekali, namun cukup terawat terlihat olehku sekilas dari bentuk bulu vaginanya yang menyerupai garis segitiga.
Dan tak lama lidahku sudah menjilati bibir luar vaginanya dengan memutar ujung lidahku lembut. Kemudian aku lanjutkan dengan menjulurkan lebih ke dalam lagi untuk mencapai bibir dalamnya yang sudah sangat basah oleh lendir kenikmatan yang di keluarkan dari lubang vaginanya. Tubuh sang gadis mengelinjang perlahan bersamaan dengan tersentuhnya benjolan kecil di atas vagina miliknya oleh ujung lidahku.
“Ohh.. Mas sayang” jeritnya tertahan.
“Aku nggak kuat Mas..” tambahnya lirih.
Yang aku lanjutkan dengan menghentikan tindakanku sesaat. Aku menurunkan tubuh sang gadis dari atas meja, kemudian aku berdiri tepat di hadapanya yang sudah berjongkok sambil menatap penisku yang sudah berdiri tegang sekali.
Dengan gerakan lincah bibir sang gadis langsung mengulum kepala penisku dengan lembut dan memutar lidahnya di dalam mulutnya yang mungil dan memilin kepala penisku yang mengkilat. Tubuhku bergetar hebat ketika menerima semua gerakan erotis mulai dari jemari tangannya yang lembut mengelus batang penisku serta bibir dan lidahnya yang lincah menelusuri buah zakarku.
“Ohh.. Sayang” desahku pelan.
Rambutnya yang hitam panjang ku remas sebagai expresi dari kenikmatan yang mengalir di sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat sang gadis menjelajahi organ sensitifku, aku merengkuh bahunya serta memintanya berdiri dan kembali aku mendudukkan pantatnya yang padat berisi di tepian meja sementara salah satu kaki jenjangnya menjuntai ke lantai.
Dengan gerakan lembut aku mengangkat paha kirinya dan bertumpu pada lenganku, di saat selanjutnya tangan kiriku memegang batang penisku yang sudah sangat tegang sekali menahan rangsangan yang menggelora dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya yang sudah basah oleh lendir birahi. Pada saat bersamaan ujung telunjukku juga mengelus belahan antara anus dan bibir bawah vaginyanya.
“Oh.. Mas sayang.. Please.. Aku enggak kuat” jeritnya lirih.
Aku masih belum merespon atas jeritan lirihnya, sebaliknya aku menundukkan kepala untuk kembali menjilati kedua payudaranya bergantian dan berakhir di puting payudara yang sebelah kiri. Gerakanku membuatnya menggelinjang dan semakin keras desahannya terdengar.
“Ohh.. Mas sayang.. Sekarang yah” pintanya lirih, dengan mata yang sayup penuh nafsu.
Perlahan aku mengarahkan batang penisku tepat di belahan vaginanya dan mendorongnya lembut.
“Slepp..” irama yang di timbulkan ketika penisku sudah menyeruak bibir vaginanya.
Kembali bibir sang gadis mengeluarkan desahan sexynya.
“Hekk.. Mmm..” gumamnya lirih.
Setengah dari batang penisku sudah masuk ke dalam vaginanya, yang aku padukan dengan gerakan bibirku mengulum bibirnya yang ranum serta memilin dan memutar ujung lidahnya lembut. Untuk menambah kenikmatan buat dirinya, aku mulai memajukan sedikit demi sedikit sisa batang penisku ke rongga vaginanya yang paling dalam dan aku mengarahkan ujung penisku menyentuh G-spotnya. Mulut sang gadis menggumam lirih karena mulutku juga masih mengulum bibirnya.
“Mmm.. Mmm” gumamnya.
Sambil menahan nikmat, tangan sang gadis menyentuh buah zakarku dan memijitnya lembut yang membuat tubuhku ikut mengelinjang menahan kenikmatan yang sama. Pinggulku membuat gerakan maju mundur untuk kesekian kalinya dan sepertinya sang gadis akan mendapatkan orgasme pertamanya ditandai dengan gerakan tangannya yang merengkuh bahuku erat dan menggigit bibir bawahnya lirih.
“Ohh.. Mas sayangg..” jeritnya bergetar.
Bersamaan dengan aliran hangat yang kurasakan di dalam, rongga vaginanya menjepit erat batang penisku. Tangannya merengkuh bongkahan pantatku serta menariknya lebih erat lagi. Tak lama berselang sang gadis kemudian tersenyum manis dan mengecup bibirku kembali sambil mengucapkan kata.
“Thanks yah.. Mas sayang”ucapnya mesra.
Aku membalasnya dengan memberikan senyum dan mengatakan.
“Aku bahagia.. kalau sayang bisa menikmati semua ini” ucapku kemudian.
Hanya beberapa saat setelah sang gadis mendapatkan orgasmenya, aku membalikkan tubuhnya membelakangiku sembari kedua tanganya berpegang pada pingiran meja. Dengan pelan kutarik pinggangnya sambil memintanya menunduk, maka nampaklah di depanku bongkahan pantatnya yang sexy dengan belahan vaginanya yang menggairahkan.
Perlahan aku memajukan tubuhku sambil memegang batang penisku dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya, sementara kaki kananku mengeser kaki kanannya untuk membuka pahanya sedikit melebar. Dengan gerakan mantap penisku menyeruak sedikit demi sedikit membelah vaginanya lembut.
“Slepp..” masuklah setengah batang penisku ke dalam rongga vaginanya.
“Sss..” sang gadis mendesah menerima desakan penisku.
Tanganku perlahan meremas payudaranya dari belakang mulai dari yang sebelah kiri dan dilanjutkan dengan yang sebelah kanan secara bergantian. Sementara pinggulku memulai gerakan maju mundur untuk kembali menyeruak rongga vaginanya lebih dalam.
Posisi ini menimbulkan sensasi tersendiri dimana seluruh batang penisku dapat menyentuh G-spotnya, sementara tanganku dengan bebas menjelajahi seluruh organ sensitifnya mulai dari kedua payudara berikut putingnya dan belahan anus dan bagian tubuh lainnya.
“Ohh.. Mas sayang” desahnya.
Ketika ujung jemariku menyentuh lubang anusnya sambil aku berkonsentrasi memaju mundurkan penisku. Setelah cukup beberapa saat aku menggerakan pinggulku memompa belahan vaginanya. Dengan gerakan lembut aku menarik wajahnya mendekat, masih dalam posisi membelakangiku aku mengulum bibirnya dan meremas kedua payudaranya lembut.
“Sayang aku mau keluar nih,” bisiku lirih.
“Ohh.. Mas sayang aku juga mau” sahutnya pelan.
Aku mempercepat gerakanku memompa vaginanya dari belakang tanpa melepas ciumanku di bibirnya dan remasan ku di kedua payudaranya. Pada saat terakhir aku mencengkeram kedua pinggulnya erat dan memajukan penisku lebih dalam.
“Creett.. Ohh.. Sayang,” jeritku kemudian.
Menyemburlah spermaku yang cukup banyak ke dalam rongga vaginanya dan beberapa tetes meleleh keluar mengalir di kedua pahanya. Untuk beberapa saat aku mendiamkan kejadian ini sampai akhirnya penisku mengecil dengan sendirinya di dalam vaginanya yang telah memberikan kenikmatan yang tak bisa aku ungkapkan.
Langganan:
Komentar (Atom)